_Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal solih._
Memaparkan catatan dengan label AKIDAH. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label AKIDAH. Papar semua catatan
Selasa, 17 Julai 2018
Takkan Sama Orang Beriman Dengan Orang Kafir
Assalamu'alaikum Wrh. Wbt.
Allahu Ta'ala berfirman :
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
ayat 21
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
ayat 22
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
ayat 23
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal solih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.
Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Surah Al Jatsiyah, 45 : ayat 21, 22 & ; 23
Allahu Ta'ala berfirman, bahawa tidak sama antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya :
لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni syurga; penghuni-penghuni syurga itulah orang-orang yang beruntung.
Surah Al Hasyr : ayat 20
Ada pon firman Allahu Ta'ala :
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.
Surah Al Jatsiyah : ayat 21
Ya'ni Kami samakan di antara sesama mereka dalam kehidupan di dunia dan akhirat?
سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.
Surah Al-Jatsiyah : ayat 21
Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertaqwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan bahawa Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasiq (durhaka).
Ketika ditanyakan : Apa saja yang keempat pilar itu, hai Abu Zar? Abu Zar rhu. menjawab : Hendaklah sesaorang menerima apa yang dihalalkan oleh Allah kerana Allah, dan menolak apa yang diharamkan oleh Allah kerana Allah, dan menerima perintah Allah kerana Allah, dan menjauhi larangan Allah kerana Allah; tiada yang dipercayai olehnya terhadap keempat perkara itu selain dari Allahu Ta'ala.
Nabi Saw. telah bersabda :
كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ
‘Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.”
Hadis ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya.
Muhammad ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya, bahawa mereka telah menemukan sebuah prasasti yang ada di Makkah, tepatnya di pondasi Ka'bah. Disebutkan padanya : Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri, ya'ni mustahil mendapatkannya kerana pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur.
Imam ath Thabrani telah meriwayatkan, bahawa Tamim Ad-Dari solat di suatu malam hingga pagi hari seraya mengulang-ngulang bacaan ayat berikut yaitu firman-Nya :
_Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal solih._
Surah Al-Jatsiyah : ayat 21
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya :
_Amat buruklah apa yang mereka sangka itu._
Surah Al-Jatsiyah : ayat 21
Ada pon firman-Nya :
*{وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ}*
_Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar._
Surah Al-Jatsiyah : ayat 22
Ya'ni dengan adil.
*{وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}*
_dan agar dibatasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan._
Surah Al-Jatsiyah : ayat 22
Kemudian Allahu Ta'ala berfirman :
*{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ}*
_Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya._
Surah Al-Jatsiyah : ayat 23
Ya'ni sesunggohnya dia hanya diperintahkan oleh hawa nafsunya. Maka apa saja yang dipandang baik oleh hawa nafsunya, dia kerjakan; dan apa saja yang dipandang buruk oleh hawa nafsunya, dia tinggalkan. Ayat ini dapat juga dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu'tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan kriteria rasio mereka sahaja.
Menurut apa yang diriwayatkan dari Malik sehubungan dengan tafsir ayat ini, orang tersebut tidak sekali-kali menyukai sesuatu melainkan dia mengabdinya.
Firman Allahu Ta'ala :
*{وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ}*
_dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya._
Surah Al-Jatsiyah : ayat 23
Makna ayat ini mengandung dua ta'wil. Pertama - Allah menyesatkan orang tersebut kerana Allah mengetahui bahawa dia berhak untuk memperoleh kesesatan. Kedua - Allah menjadikannya sesat sesudah sampai kepadanya pengetahuan dan sesudah hujjah ditegakkan terhadapnya.
Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak kebalikannya.
*{وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً}*
dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?
Surah Al-Jatsiyah : ayat 23
Kerananya dia tidak dapat mendengar apa yang bermunafaat bagi dirinya dan tidak memahami sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang dapat dijadikan sebagai penerang hatinya. Kerana itulah disebutkan dalam firman berikutnya :
{فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ}
Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
(Al-Jatsiyah: 23)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya :
{مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلا هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ}
Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
(Al-A’raf: 186)
Wassalaam
Selasa, 13 Jun 2017
Antara Wali Allah Dan Wali Syaithon
بسم الله
الرحمن الرحيم
السلام عليكم
و رحمة الله و بركاته
وبعد , يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي
رب إشرح لي صدري و
Segala
puji bagi Allah Swt., Pencipta sekelian alam. Salawat dan salam ke atas
junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait,
SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta
orang-orang yang mengikut mereka dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma
ba'du.
Saya
mendoakan agar Allah Swt. sentiasa menerima semua amalan kita seterusnya
melimpahkan segala rahmat dan keampunan-Nya di hari dan bulan yang mulia ini,
Insya’Allah. Juga saya memohon perlindungan, rahmat dan bimbingan dari Allah
Swt. dari sebarang kesilapan dalam menuliskan nukilan ini.
Para sahabat jamaah yang dikasihi, pilihlah jalan kebaikan agar redho
Allahu Ta’ala senantiasa mengiringi hidup kita.
Antara Wali Allah Dan Wali Syaithon
Ketika disebut kata *wali* maka yang
langsung terbayang dalam benak kita adalah *suatu keanehan, kepelikan dan
keluarbiasaan*. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat terhadap
ma'na wali ini. *Maka, bila ada orang yang bertingkah laku aneh, apalagi kalau
sudah dikenal sebagai kyai, tok syeikh, ulama', tok guru dan berbagai, disangka
mempunyai indera keenam sehingga mengerti semua yang belum terjadi (ghoib),
segera disebut dan dipuja sebagai wali*.
Bahkan ada juga yang disebut sebagai
wali, padahal sering meninggalkan solat wajib. Ketika ditanyakan, dia menjawab
: “Kami kan sudah sampai tingkat ma’rifat, jadi tidak apa-apa tidak
mengerjakannya. Sedangkan solat itu bagi yang masih taraf syari’at.
Lalu, siapakah wali Allah yang
sebenarnya ?
Definisi Wali
Secara epistimologi, kata wali
adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan).
Maka wali Allah adalah “orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau
orang yang didekati dan ditolong oleh Allah”.
Definisi ini semakna dengan
pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman :
“Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu
bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam
kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji)
Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”
Surah Yunus : ayat
62~64
Dari ayat tersebut, wali adalah
orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub
dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan rosul-Nya, memegang teguh
syari'at~Nya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan
dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), berterusan dengan sifat ketaqwaan
dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa
kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharamkan.
Lihat : Muqoddimah Karomatul
Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, jilid 5 hal. 8
Imam al hafidz Ismail bin Umar Ibnu
Katsir rhm. menafsirkan :
“Allahu Ta’ala menginformasikan bahawa para wali Allah
adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia
adalah wali Allah”
Tafsiir ul Qur'aan il Adziim, Jilid
2 hal. 384
Syaikh Muhammad bin Solih Ibnu
Utsaimin rhm. juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no. 96, bahawa
wali Allah adalah :
“orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka
merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan
mereka merealisasikan amal solih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi
semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan
perkara yang haram. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan bathin dengan
keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dalam Al Furqon Baina Auliya’ ir Rohman wa Auliya’ usy Syaithon
mengatakan :
“Bukan termasuk wali Allah melainkan orang yang beriman
kepada Rasulullah Saw., beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara
lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun
tidak mengikuti Baginda Saw. maka tidak termasuk wali Allah, bahkan jika dia
menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali syaithon”.
Allahu Ta’ala berfirman :
Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.
Surah Ali Imron : 31
Hasan Al Basri rhm. berkata :
“Suatu qaum mendakwa mencintai Allah, lantas Allah turunkan
ayat ini sebagai ujian bagi mereka”.
Allahu Ta'ala sungguh telah
menjelaskan dalam ayat tersebut, barang siapa yang mengikuti Rasulullah Saw.
maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mendakwa mencintai-Nya tapi
tidak mengikuti Baginda Saw. maka dia tidak termasuk dalam golongan wali Allah.
Walau pon banyak orang menyangka
dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, akan tetapi kenyataannya mereka
bukan wali-Nya.
Dari huraian di atas, terlihat
bahawa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang
memiliki keimanan dan ketaqwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para
nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling
utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita
Muhammad Saw.
Maka sangat salah suatu pemahaman
yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahawa wali itu hanya dimonopoli
oleh sekelompok orang-orang tertentu, semitsal ulama', kyai, tok syaikh, tok
guru, tok lebai, oaring-orang tertentu, apalagi hanya terbatas pada orang yang
memiliki ilmu yang aneh-aneh, peramal kepada yang ghoib, mengaku mendapat ilham
langsung dari Allah dan sampai pada orang yang memperlekehkan kewajiban
syari’at yang diwajibkan atasnya.
Ingat sekali lagi, piawai sesaorang
termasuk wali Allah adalah bertaqwa dan beriman yang sebenar~benarnya kepada
Allahu Ta'ala dan rosul~Nya.
Jika ia malah memiliki ilmu-ilmu
aneh tapi culas mengerjakan solat juga menyeru manusia kepada ketahyulan,
kepercayaan karut, pelaku kebid'ahan, menyeru kepada pengkultusan manusia dan
pengamalan hal yang tidak datang dari Allahu Ta'ala dan rosul~Nya. ini sunggoh
bukan wali Allah tetapi benar~benar wali syaithon.
والله تعالى أعلم
, وصلى
الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله
وأصحابه أجمعين.
Yang
benar itu datang dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari
saya yang amat faqir dan dhoif ini.
سكيان
, والسلام
eddzahir @ 38
tanah liat, bukit mertajam
Khamis, 22 Disember 2016
Hanya Allah Yang Disembah : Pengagungan Quburan Perosak Aqidah Ummat
حمن الرحيم بسم الله الر
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
وبعد , يسرلي
أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي رب إشرح لي صدري و
Segala
puji bagi Allah Swt., Pencipta sekelian alam. Salawat dan salam ke atas
junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait,
SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta
orang-orang yang mengikut mereka dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma
ba'du.
Saya
mendoakan agar Allah Swt. sentiasa menerima semua amalan kita seterusnya
melimpahkan segala rahmat dan keampunan-Nya di hari dan bulan yang mulia ini,
Insya’Allah. Juga saya memohon perlindungan, rahmat dan bimbingan dari Allah
Swt. dari sebarang kesilapan dalam menuliskan nukilan ini.
Para sahabat jamaah
yang dikasihi, pilihlah jalan kebaikan agar redho Allahu Ta’ala senantiasa
mengiringi hidup kita.
Hanya Allah Yang Disembah :
Pengagungan Quburan Perosak Aqidah Ummat
Sunggoh Nabi Saw. dalam seluroh usia
da'wah Baginda : menyeru ummat untuk meninggalkan dan menjauhi
kesyirikan. Bahkan, Baginda Saw. telah menghancurkan patung-patung berhala
ketika Fathu Makkah dan mengutus para sahabat Baginda untuk menghancurkan
berhala-berhala yang telah dijadikan sesembahan selain dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
Di antara hal yang juga Baginda Saw.
ingatkan untuk dijauhi oleh ummatnya adalah sifat ghuluw (berlebih-lebihan)
terhadap orang solih dan mengagungkan, sujud sembah, merintih, merayu, memohon
niyat di quburan mereka.
Beginilah perbuatan yang semakin
berleluasa dalam kalangan ummat, sedangkan Rasulullah Saw. dengan terang jelas
telah menyatakan bahawa para penyembah quburan ini, adalah orang-orang terburuk
(dan terkutuk).
Ketika Ummu Salamah Rha.
menceritakan perbuatan kaum Nasrani yang beliau lihat di Habasyah, Rasulullah
Saw. bersabda balas :
أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ
الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا
وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
“Mereka itu, jika ada orang solih
(meninggal) di antara mereka, mereka membangun masjid di atas quburnya dan
membuat gambarnya (untuk dipuja dan disembah). Mereka adalah orang-orang
terjelek di sisi Allah.”
Riwayat imam Bukhori dan Muslim Rhm.
Al Allamah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin
Abdullah Baaz Rhm. menerangkan :
“Maqsud ucapan Rasulullah Saw. ini
adalah peringatan agar perbuatan mereka tidak sekali~kali layak diikuti. Namun,
ada dari ummat ini yang terjatuh dalam perbuatan tersebut. Yang paling banyak
melakukannya adalah Syiah Rafidhah yang ghuluw terhadap ahlul bait.”*
Lihat : Syarah Kitabut Tauhid, hlm.
105
Bahkan sekarang ini, yang terjatuh
ke dalam kesyirikkan ini adalah golongan sufi yang ghuluw. Mereka menuruti
jejak Syi’ah dalam pengagungan terhadap qubur para manusia yang mereka sendiri
tetapkan ia sebagai wali dari dalam kalangan mereka sendiri, tanpa landasan
kebenaran syara’.
Dan, lima hari menjelang wafat,
Baginda Saw. telah bersabda, sesuatu wasiyat yang amat penting kepada seluroh
ummatnya :
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا
فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketahuilah, orang-orang sebelum
kalian telah menjadikan quburan para nabi dan orang solih sebagai masjid (ya'ni
pusat pengibadahan / pengabadian kepada Allahu Ta'ala).
Ketahuilah, janganlah kalian
menjadikan quburan sebagai masjid kerana aku melarang dari hal
tersebut.”*
Riwayat imam Muslim Rhm.
Bahkan, ketika sedang sakaratul
maut, Baginda Saw. telah bersabda lagi :
لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ
وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ؛ يُحَذِّرُ مَا
صَنَعُوا
“La'nat Allah atas Yahudi dan
Nasrani kerana mereka telah menjadikan qubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.
Baginda memperingatkan (agar jangan sampai mengikut) perbuatan mereka….”*
Riwayat imam Bukhori dan Muslim Rhm.
Justeru, hanya Allahu Ta'ala lah
satu~satunya Dzat Yang Berhak Disembah dan tiada suatu apa pon lagi yang ada
hak sebegitu selain dari~Nya. Dan Allahu Ta'ala telah menegaskan lewat
Kalam~Nya :
.... ولم يكن له كفوا احد
Pengibadahan, pengabadian juga
kepercayaan bahawa adanya sesuatu selain~Nya yang boleh memberi munafaat
dan/atau mudhorat, jelas sekali suatu kesyirikan. Dan kesyirikan itu
benar-benar telah diperlakukan dengan menyembah dan memuja quburan,
bertawassul, isti’anah dan istighotsah kepada mayyit, juga dengan meyaqini bahawa
mayyit boleh mendatangkan mudhorat atau munafaat.
Semoga semua kita terhindar dari
segala macam syirik akbar ini.
Wa sollallahu wa salaamu ‘alaa
Nabiyyinaa Muhammad
والله تعالى أعلم
, وصلى
الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله
وأصحابه أجمعين.
Yang
benar itu datang dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari
saya yang amat faqir dan dhoif ini.
سكيان
, والسلام
eddzahir@38 tanah liat
bukit mertajam
Hanya Allah Yang Berhak Disembah : Tiada Tuhan (Arbab) Selain Dia
بسم الله
الرحمن الرحيم
السلام عليكم
و رحمة الله و بركاته
وبعد , يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي
رب إشرح لي صدري و
Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta sekelian
alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera
ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan
Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikut mereka dengan baik hingga ke hari
kemudian. A'mma ba'du.
Saya mendoakan agar Allah Swt. sentiasa
menerima semua amalan kita seterusnya melimpahkan segala rahmat dan
keampunan-Nya di hari dan bulan yang mulia ini, Insya’Allah. Juga saya memohon
perlindungan, rahmat dan bimbingan dari Allah Swt. dari sebarang kesilapan
dalam menuliskan nukilan ini.
Para sahabat jamaah yang dikasihi, pilihlah jalan kebaikan agar redho
Allahu Ta’ala senantiasa mengiringi hidup kita.
Hanya Allah Yang Berhak Disembah :
Tiada Tuhan (Arbab) Selain Dia
Saudaraku se~manhaj yang dimuliakan,
semoga Allahu Ta'ala memberikan kepada kita kefahaman dan munafaat, dari apa
yang dinukilkan di bawah ini :
عَنْ عَدِىِّ بْنِ حَاتِمٍ –رَضِي
الله عَنْهُ-قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَفِى عُنُقِى
صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ. فَقَالَ « يَا عَدِىُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ ».
وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِى سُورَةِ بَرَاءَةَ (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ) قَالَ « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ
يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا
اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ »
Dari Adi bin Hatim Rhu, dia berkata
: Aku pernah menemui Nabi Saw. sedangkan di leherku terdapat salib dari emas
(saat itu Adi bin Hatim masih Nasrani).
Melihat keadaanku maka Rasulullah
bersabda : “Wahai Adi, buanglah berhala ini darimu!. Aku mendengar Baginda
membaca firman Allahu Ta'ala :
...... اتخذوا احبارهم ورحبانهم
اربابا من دون الله
Mereka menjadikan orang-orang
alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah..
Surah At Taubah ayat 31.
Baginda bersabda : “Sesungguhnya
mereka tidak menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib mereka itu dengan
ritual-ritual ibadah, namun apabila orang-orang alim dan rahib-rahib mereka
menghalalkan sesuatu untuk mereka maka mereka menghalalkan apa yang mereka
halalkan itu.
Dan apabila orang-orang alim dan
rahib-rahib mereka mengharamkan sesuatu atas mereka maka mereka pun
mengharamkan sesuatu yang diharamkan itu.
Riwayat imam At Thirmidzi Rhm.
dihasankan oleh Syaikh Al Albani Rhm. dalam Sohih wa Dho’if Sunan At-Thirmidzi
no. 3092
Dalam kitab at-Tanbihaat al
Mukhtasharah Syarhu Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa Kulliy
Muslimin Wa Muslimatin disebutkan sebagai berikut :
أي : النوع الثالث من أنواع الشرك
الأكبر: شرك الطاعة، فمن أطاع المخلوقين في تحليل ما
حرّم الله أو تحريم ما أحلّ الله و يعتقد ذلك بقلبه مع علمه بأنه مخالف للدين فقد
اتخذهم أربابا من دون الله أشرك به الشرك الأكبر
Macam ketiga dari syirk besar adalah
syirk dalam ketaatan. Maka siapa yang mentaati makhluq dalam penghalalan apa
yang diharamkan Allah atau pengharaman apa yang dihalalkan Allah dengan
keyaqinan hatinya sedangkan ia tahu bahawa hal itu menyelisihi agama Islam,
maka orang yang berbuat demikian telah mengambil mereka sebagai sesembahan
(tuhan/arbab) selain dari Allah dan ia telah berbuat syirk kepada Allah dengan
syirk yang besar.
Kitab At Tanbiihaat hal. 105
Ingatlah para saudara yang dikasihi,
tidak sekali~kali ada ketaatan kepada makhluq dalam perkara yang dilarang oleh
Allahu Ta'ala. Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf, perkara yang
dikenal atau diketahui benar-benar diperintah atau dibolehkan oleh Al Qur’an
dan As Sunnah semata.
Dari Ali bin Abi Tholib Rhu.
bahawasanya Rasulullah Saw. telah bersabda :
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam ma'siyat
kepada Allah. Sesunggohnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf.
Riwayat imam Muslim Rhm. no.
4871(sohih)
Lihatlah, berapa banyak manusia yang
telah menjadikan kalam~kalam, pendapat~pendapat, pandangan~pandangan, jua
perasaan, persangkaan dan pemikiran dangkal makhluq sebagai dasar hukuman,
mentaqlidinya membuta tuli, mentaatinya tanpa soal, walhal dalam segala macam
hal Allahu Ta'ala dan rosul~Nya, telah pon menetapkan urusan mereka.
Begitulah sifat manusia sesat dari
jalan kebenaran, dengan mengambil apa jua ketetapan hanya berdasarkan dengar
cakap manusia, tanpa sekali~kali merujuk, kembali dan menyerahkan urusan kepada
Allahu Ta'ala dan Pesuroh~Nya. Sesunggohnya, mereka telah syirk yang besar
disebabkan ada sebahagian perkara dalam kehidupan, mereka meletakkan makhluq
lebih tinggi, lebih ditaati, lebih ditundokpatuhi selain dari Allahu Ta'ala dan
Pesuroh~Nya. Lantaran apa yang mereka tundokpatuhi tanpa soal itu, haqiqinya
berupa sesembahan, tuhan, arbaaban yang mereka sembah selain dari Allahu
Ta'ala.
Demikianlah yang dapat disampaikan,
untuk kemunafaatan kita bersama.
Semoga Allah melindungi kita dari
apa-apa yang menimbulkan murka dan siksa-Nya. Dan semoga kita semua termasuk
hamba-hamba Allah yang ditetapkan oleh-Nya selamat di dunia dan di akhirat
kelak, aamiin.
Wa sollallahu wa salaamu ‘alaa
Nabiyyinaa Muhammad
والله تعالى أعلم
, وصلى
الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله
وأصحابه أجمعين.
Yang
benar itu datang dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari
saya yang amat faqir dan dhoif ini.
سكيان
, والسلام
eddzahir@38 tanah liat
bukit mertajam
Khamis, 22 Mei 2014
Tangani Jenazah Dengan Cara Yang Benar.
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
وبعد , يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي رب إشرح لي صدري و
Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta sekalian alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma ba'du.
Aku bersaksi bahawasa sesungguhnya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata-mata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahawasanya Nabi Muhammad Saw. adalah hamba dan Rasul-Nya.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah (kamu) kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Surah Ali ‘Imran (3) : ayat 102
Para Jama’ah yang diberkati Allah Swt.,
Setiap yang bernyawa pasti akan merasai mati dan sesungguhnya pahala kamu akan dibalas pada hari qiyamat. Walau di mana saja kamu berada, kematian itu tetap akan mendapatkan kamu sekali pun kamu berada dalam kubu yang kukuh. Apabila sampainya ketika ajal maut seseorang itu, ia tidak dapat ditunda atau dipercepat, walau sesaat pun. Pada kali ini penulisan saya lebih terarah kepada cara/qaedah-qaedah menangani janazah/mayat samaada Muslim mahu pun yang kafir.
Pembaca sekalian, penulisan ini lebih terarah kepada cara menangani janazah yang BUKAN MUSLIM, permintaan daripada beberapa orang sahabat saya yang sangat prihatin tatkala melihat beberapa kepincangan/kesalahan dalam menghormati ‘simati’ tersebut. Lebih tepat lagi, ia merujuk kepada kematian salah seorang tokoh politik Malaysia baru-baru ini. Ada asasnya juga keprihatinan mereka tentang masalah ini, lantaran menghormati janazah adalah tuntutan Syari’at Islam yang telah tetap hukumannya, tanpa perlu disangkal dengan hukum-hakam ciptaan sendiri, lebih-lebih lagi atas sebab kepentingan golongan tertentu.
KEMATIAN
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari qiyamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, maka sesungguhnya ia telah berjaya. dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.”
Surah Ali ‘Imran (3) : ayat 185
Intipati dan pengajaran dari ayat ini amat jelas dan nyata, sehingga tidak memerlukan huraian panjang lebar dan boleh difahami sendiri dengan aqal yang sihat, insyaAllah :
1. Tiap-tiap yang bernyawa (hidup-mesti) akan merasai mati
2. Pada hari qiyamat akan disempurnakan balasan
3. Yang dimasukkan ke syurga, sesungguhnya dia telah berjaya
4. Kehidupan di dunia hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya
Kematian Bagi Muslim.
Di dalam Syari’at Islam, apabila berlakunya kematian dan kita mendapat khabarnya, maka terdapat banyak perkara yang dituntut untuk kita lakukan. Ia amat luas dan rinci, namun untuk artikel ini saya catatkan beberapa sahaja dari sifat perbuatan-perbuatannya yang asas/umum :
A. Mengucapkan “Sesungguhnya daripada Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali” (إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ) . Ini menurut perintah Allah Swt. dalam Surah Al Baqarah (2) : ayat 256 apabila ada orang Mukmin mendapat bala dan musibah.
Seterusnya kepada para Mukminin yang mampu membuatnya dan berkesempatan, hendaklah dia menyempurnakan pula hal-hal ini :
B. Memandikan Janazah
C. Mengkafankan Janazah
Dari Ummu ‘Athiyah Rha. , dia berkata bahawasanya : “Rasulullah Saw. mendatangi kami di saat kami sedang memandikan puterinya (Zainab Rha.), lalu Baginda bersabda: Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara sebanyak 3 atau 5 kali atau 7 kali atau lebih dari itu jika menurut kalian diperlukan, dan jadikanlah akhir pencuciannya dengan air kapur barus atau air yang dicampur sedikit kapur barus. Apabila kalian telah selesai beritahukanlah aku. Manakala kami telah selesai, kami memberitahu Baginda, kemudian Baginda melemparkan kain kepada kami dan bersabda : Jadikanlah kain ini sebagai pembungkusnya (kafan)…………...”
Hadis sahih riwayat imam Bukhari Rhm (no. 1253), imam Muslim Rhm. (no. 939), imam Abi Dawud Rhm. (‘Aunul Ma’buud, no. 3126), imam Tirmidzi Rhm. (no. 995), imam Ibnu Majah Rhm. (no. 1458) dan imam Nasa’ie Rhm.
D. Mensolatkan Janazah
Solat janazah hukumnya Fardhu Kifayah (gugur kewajiban ke atas seseorang Mukmin dari melakukannya apabila telah ada sebahagian Mukmin lain melakukannya)
“Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Rhu. dia menceritakan bahawasanya ada seorang laki-laki dari Sahabat Nabi Saw. meninggal pada Perang Khaibar, kemudian Rasulullah Saw. dikhabarkan tentang perkara itu, lalu Baginda bersabda : Solatkanlah sahabat kalian. Maka berubahlah raut muka para Sahabat setelah mendengar ucapan Baginda itu. Lalu Baginda bersabda lagi : Sesungguhnya teman kalian ini telah melakukan kecurangan dalam jihad fi sabilillah. Kemudian kami memeriksa bekalnya dan kami temukan kain sulaman milik Yahudi yang harganya tidak pun sampai 2 darham”.
Hadis sahih riwayat imam Abu Dawud Rhm. (‘Aunul Ma’buud, no. 2693), imam Ibnu Majah Rhm. (no. 2838) dan imam Nasa’ie Rhm.
Seterusnya mengusung, mengiringi dan membawa ke quburan.
E. Mengquburkan Janazah
Hukumnya wajib mengquburkan janazah sekali pun janazah orang kafir, dan tempat diquburkan itu pula di tapak qubur dan mengikut tatacara yang telah ditetapkan.
“Dari Ali bin Abu Thalib Rhu. dia berkata : Aku berkata kepada Nabi Saw. : Pakcikmu seorang tua yang sesat telah meninggal dunia. Nabi bersabda : Pergilah dan segera quburkan ayahmu, kemudian jangan berkata sesuatu apa-pun (tentangya) sampai engkau datang lagi kepadaku. Aku lalu pergi mengquburkannya dan ketika aku kembali menemui Baginda, aku diperintahkan (untuk mandi), lalu aku pun mandi kemudian Baginda mendoakanku”.
Hadis riwayat imam Abu Dawud Rhm. (“Aunul Ma’bud, no. 3214)
“Rasulullah Saw. telah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib Rhu. ketika Abu Thalib meninggal : Pergilah dan uruslah pengquburannya”.
Hadis sahih riwayat imam Nasa’ie Rhm ( no. 1895)
F. Mendoakan Kebaikan Kepada Janazah
“Dari Utsman bin Affan Rhu. dia berkata bahawasanya apabila Rasulullah Saw. selesai mengquburkan mayat, Baginda berdiri di samping qubur dan bersabda : Mohonlah keampunan bagi saudaramu dan mohonlah kemantapan baginya kerana dia sekarang sedang ditanya”.
Hadis riwayat imam Abu Dawud Rhm. (‘Aunul Ma’buud, no. 3205) dengan sanad yang sahih
Dan boleh saja doa itu diperbuat di mana jua pun, sekiranya tidak dapat hadir bersama ke quburan. Ini dijelaskan oleh Allah Swt. :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (khabarkan kepada mereka) : Sesungguhnya aku (Allah) sentiasa hampir/dekat (dengan mereka), aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka menyebut suruhan-Ku (dengan mematuhi suruhan-Ku), dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka menjadi baik dan betul”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 186
G. Memberi Makanan/Bantuan Kepada Keluarga Simati/Anak-Anak Yatim, Bukan Berbuat Sebaliknya
Dari Abdulllah bin Ja’far Rhu. beliau berkata : Apabila tiba berita kematian Ja’far (bin Abi Talib) Rhu., Nabi Saw. bersabda : Hendaklah kamu membuat makanan kepada ahli (keluarga) Ja’afar (isteri-isteri dan anak-anaknya). Sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang mengharukan mereka”.
Hadis riwayat imam Abu Dawud Rhm, imam Tirmidzi Rhm. dan imam Ibnu Majah Rhm. dengan sanad yang sahih
Dan kepada qaum keluarga sendiri diserukan, tugas mereka adalah jauh lebih utama lagi dalam melakukan semua hak yang tersebut diatas. Ini ditegaskan oleh Allah Swt. :
“…… dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah …..”.
Surah Al Ahzaab (33) : ayat 6
Selain dari hak-hak yang dinyatakan di atas, qaum keluarga mesti :
1. Menyelesaikan/bertanggungjawab ke atas hutang piutang beliau
2. Menunaikan wasiyat beliau
3. Menguruskan/memecah bahagi pusaka (harta tinggalan) beliau mengikut syara’
4. Menjaga/memelihara anak-anak yatim yang beliau tinggalkan
Nota : Ini adalah huraian secara ringkas/bahagian kecil sahaja tentang hak mayat ke atas orang hayat (sesama Muslimin). Secara lengkap dan rinci boleh didapati dalam kuliyah Bab Ahkamul Janaiz (Hukum-Hukum Janazah). InsyaAllah, di lain masa.
Kematian Bagi Kafir (Bukan Muslim)
Apabila simati itu adalah seorang kafir, mestilah diingat benar-benar Kalamullah ini sebagai prinsip paling asas, juga sebagai pendirian kita sebagai Mukminin :
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu, lalu mati sedang mereka tetap dalam kekafiran, maka tidak sekali-kali akan diterima dari seseorang di antara mereka emas separuh bumi, walaupun dia menebus dirinya dengan (emas yang sebanyak) itu. Bagi mereka itu siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”.
Surah Ali Imran (3) : ayat 91
“Tidaklah pantas (layak) orang-orang musyrik (kafir) itu memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid Allah, sedang mereka menjadi saksi (mengakui) bahawa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka”.
Surah At Taubah (9) : ayat 17
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik (kafir), walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka bahawasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam”.
Surah At Taubah (9) : ayat 17
“Dan janganlah kamu sekali-kali mensolati (janazah) seseorang yang mati diantara mereka (orang munafiq/kafir), dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya (menyelenggarakan urusan pengkebumiannya). Sesungguhnya mereka telah kufur kepada Allah dan (kufur) kepada Rasul-Nya, dan mereka mati hal keadaan mereka fasiq”.
Surah At Taubah (9) : ayat 84
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir ya’ni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.
Surah Al Bayyinah (98) : ayat 6
Ayat-ayat Allah Swt. ini secara sendiri jelas memberikan maksudnya tanpa perlu dihuraikan panjang lebar lagi. Intisari ringkas yang mahu saya catatkan :
1. Mati sedang mereka tetap dalam kekafiran, bagi mereka itu siksa yang pedih
2. Sedang mereka menjadi saksi (mengakui) bahawa mereka sendiri kafir, dan mereka kekal di dalam neraka
3. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang beriman memintakan ampun bagi orang musyrik, walau pun qaum kerabat, orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam
Sebagai seorang yang diyakini telah mencuba sebaik-baiknya menjadi seorang Muslimin, kita sewajibnya jelas dengan sejelas-jelasnya dalam perkara ini, dan tidak boleh sama sekali berdolak-dalik. Misalnya disebabkan oleh persahabatan, kebaikan, jasa dan persefahaman yang berlaku dalam mu’ammalah dengan orang kafir di dunia menjadikan kita ke tahap mengadaikan prinsip dan dasar yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. ini. Seterusnya Allah Swt. telah memberikan pesanan :
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka ; Sesungguhnya kami bara’ (berlepas diri) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata ……..”.
Surah Al Mumtahanah (60) : ayat 4
Demikianlah ketetapan Allah Swt. dan rasul-Nya. Tiada lain sebagai seorang Mukmin, tidaklah boleh/berhak kita memilih suatu ketetapan sendiri atau yang lain dalam sesuatu perkara setelah Allah Swt. dan rasul-Nya telah pun membuat ketetapan dalam hal itu.
Disebutkan hal ini, lantaran saya menemui ada individu dan entity (berorientasikan politik) yang amat cuai dalam hal ini sehingga ke tahap “bersadaqah pahala Al Fatihah” dan “mendoakan supaya roh ditempatkan di kalangan syuhada”. Mana mungkin pernyataan sebegini diperbuat sedangkan telah sahih, soreh dan qot’ie yang Allah Swt. telah menetapkan hukum-hukum dan batasannya tentang orang kafir berbanding seorang Muslimin. Sekiranya ia suatu kesilapan, saya menyeru pihak-pihak ini menarik balik pernyataan mereka secepat mungkin. Dan jika ia disenghajakan, saya menyeru kepada para pemimpin mereka dan para alim ulama’, tolonglah ajari mereka tentang Islam dan perbetulkan semula aqidah mereka.
Nota : Amalan bersadaqah pahala bacaan Al Fatihah kepada roh orang mati tidak ditemui dalam catatan amalan Nabi Saw, para Sahabat dan para Salafus Solih. Ia adalah amalan yang baharu diada-adakan dan menjadi adat budaya komuniti Melayu Islam di nusantara.
Natijahnya, pernyataan/kepercayaan sebegini telah menjadikan seolah-olah kafirin yang mati satu taraf/tahap sahaja dengan seorang Muslimin. Juga menjadikan agama Islam satu taraf/tahap sahaja dengan suatu millah (istilah dalam Bahasa arab yang bermaksud agama) anutan lain yang tidak diterima oleh Allah Swt. Paling menjengkelkan lagi apabila individu/entity ini pembawa label Islam. Ia tidak sepatutnya berlaku sama sekali sekiranya individu/entity berkenaan berhati-hati berkata/menulis, menyemak dahulu berdasarkan ilmu, iman dan taqwa, bukannya mengikut kehendak hawa nafsu dan emosi.
Justeru itu, dalam menangani janazah orang kafir ini, marilah kita mengikut contoh tauladan yang ditinggalkan oleh junjungan mulia Nabi Muhammad Saw.Sesungguhnya Baginda berdiri apabila ada janazah diusung melintasi dihadapan Baginda, sama ada janazah itu Muslim mahu pun dia kafir.
“………… Abdur Rahman berkata : Aku bersama Qees bin Saad dan Sahl bin Hunaif Rhu., lalu keduanya berkata : 'Kami bersama Nabi Saw. dan melintasi di hadapannya oleh satu janazah, lalu Baginda berdiri. Diberitakan kepada Baginda bahawa ia adalah janazah seorang Yahudi. Lalu Baginda bersabda: “Tidakkah ia juga satu jiwa (manusia)?”.
Hadis sahih riwayat imam Bukhari Rhm. (no: 1250) dan imam Muslim Rhm. (no: 961)
Pengajaran : Baginda berdiri kerana janazah itu walau pun seorang yahudi, namun ia tetap jua seorang manusia.
Dari Jabir bin Abdullah Rhu. , dia berkata : Ada iringan jenazah lewat, lalu Rasulullah Saw. berdiri dan kami ikut berdiri bersama Baginda. Kemudian kami berkata : Wahai Rasulullah, janazah itu adalah janazah Yahudi. Rasulullah Saw. bersabda : Sesungguhnya kematian itu menggetarkan, maka jika kalian melihat iringan janazah, maka berdirilah.
Hadis sahih riwayat imam Muslim Rhm. (No. 1593)
Pengajaran : Baginda berdiri kerana ia mengingatkan tentang mati.
“Dari Abdullah bin Amru Rhu., dia berkata bahawasanya Nabi Saw. ditanya : Apabila janazah kafir melalui kita, adakah kita berdiri? Jawab Bagunda : Ya, berdirilah. Sesungguhnya kamu bukan berdiri untuk janazah itu, tetapi berdiri kerana membesarkan yang mencabut roh-roh (ya’ni malaikat maut).”
Hadis riwayat imam Ahmad Rhm. (no. 6573), imam Ibnu Hibban Rhm. (3053) dan dinilai sahih oleh imam Hakim Rhm. (no. 1320)
Pengajaran : Baginda berdiri kerana ia membesarkan/menghormati malaikat maut.
Kepada satu pihak lain pula, janganlah sesekali mencerca dan mencaci maki janazah sama ada dia seorang Muslim atau kafir. Perbuatan ini jelas dilarang oleh Nabi Saw. :
Dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar Rha. dia mengatakan bahawa Rasulullah Saw. bersabda : Janganlah kamu mencaci maki orang-orang yang telah meninggal dunia. Kerana sesungguhnya mereka telah sampai pada apa yang mereka dahulukan (amalkan, baik atau buruk)."
Hadis sahih riwayat imam Bukhari Rhm. (no. 1393) dan imam Darimy Rhm. (no. 2399)
Namun harus diingat, cercaan yang terlarang itu adalah memperkatakan sesuatu yang tidak benar terhadap (disandarkan kepada) janazah itu lantaran ia adalah fitnah dan perbuatan berdosa. Bagi mereka yang melakukan perbuatan fasiq, fasad, perilaku bid’ah atau perbuatan buruk lainnya, menyebutkan semua keburukan yang dilakukannya adalah diizinkan. Demikianlah juga menyebut tentang kebaikannya. Syaratnya, dari penyebutan keburukan atau kebaikan itu, ada kemaslahatan dan ‘ibrah bagi orang yang lain atau sebagai pelajaran agar tak ditiru keburukannya oleh orang lain. Manakala kebaikannya boleh dipelajari dan diteruskan.
Tidak boleh kata-kata (pujian atau celaan) itu disulami pula dengan segala macam tokok tambah sesedap rasa, sama ada memuji atau mengkeji sehingga ke tahap tidak masuk aqal. Al maklumlah dengan sifat manusia yang sarat dengan nafsu perasaan, yang dipuji itu dijulang hingga ke langit ke 7 dan yang dikeji itu pula diinjak-injak hingga ke lapisan bumi ke 7 pula. Ini perbuatan amat salah terhadap janazah seseorang lantaran apa yang layak/boleh diperkatakan itu mesti hanyalah apa yang tampak jelas sahaja dan pasti datang darinya, bukan yang terhasil dari persepsi sendiri, dengar cakap pihak lain dan disusuli pula dengan komentar melulu.
“Dari Anas bin Malik Rhu. dia menceritakan bahawa mereka (para sahabat) pernah melewati satu janazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Saw. bersabda : Pasti baginya. Kemudian mereka melewati janazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Baginda pun bersabda : Pasti baginya. Maka kemudian Umar bin Al Khattab Rhu. bertanya : Apa yang dimaqsud pasti baginya itu?. Baginda menjawab : Janazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk syurga sedang janazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka kerana kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.”
Hadis sahih riwayat imam Bukhari Rhm. (no. 1278)
Yang dimaqsudkan saksi-saksi Allah dimuka bumi itu adalah dari manusia kalangan ummat Muslimin yang adil dan berkata benar.
“Dari Abu Aswad Ad Daili Rhu. dia berkata : Aku datang ke Madinah ketika sedang dijangkiti wabak penyakit yang meyebabkan banyak orang mati. Aku pun menghampiri Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab Rhu. Ketika kami sedang duduk, lalu janazah di hadapan kami dan Umar memujinya dengan kebaikan seraya berkata : Wajib, wajib, wajib. Aku bertanya kepadanya : Apakah yang wajib wahai Amirul Mukminin?. Umar menjawab : Bilamana seorang muslim (meninggal dunia) lalu disaksikan (disanjung) oleh 4 orang muslim lainnya dengan kebaikan maka pasti Allah akan memasukkannya ke dalam syurga. Maka kami bertanya kepadanya : Bagaimana kalau 3 orang muslim?. Dia menjawab : Juga oleh 3 orang. Kami berkata lagi : Bagaimana kalau 2 orang muslim?. Dia menjawab : Juga oleh 2 orang. Dan kami tak menanyakannya lagi bagaimana kalau 1 orang.”
Hadis sahih riwayat imam Bukhari Rhm. (no. 1279)
Imam Yahya bin Sharaff An Nawawi Rhm. menjelaskan : Bahawa pujian dengan kebaikan adalah untuk orang-orang yang berhak untuk dipuji dengan kebaikan yaitu orang-orang yang mulia, di mana pujian terhadap mereka adalah sesuai dengan perbuatannya, maka jadilah dia termasuk penghuni syurga. Jika kondisinya tidak sedemikian, maka itu bukan yang dimaqsudkan oleh hadis ini. Dan jika perbuatannya tidak demikian (seperti disebut), maka janganlah pula kamu memastikan bahawa dia mendapat hukuman, tetapi katakanlah bahawa dikhuatirkan dia akan mendapat hukuman.
Jika dikatakan, bagaimana boleh mencaci janazah dengan menyebutkan keburukannya dibenarkan, padahal telah ada hadis sahih (Bukhari) yang menjelaskan larangan! Maka jawabnya, larangan mencerca janazah adalah untuk selain orang munafiq dan orang kafir seluruhnya, dan untuk selain orang yang terang-terangan menampakkan kefasiqan dan kebid’ahan. Sebab, tidak dharamkan menyebut keburukan mereka, yang bertujuan untuk menjauhkan manusia dari jalan mereka, dari dari mengikuti ajaran-ajaran mereka, serta berakhlak dengan akhlak mereka. Hadis ini berkenaan dengan orang yang sudah terkenal dengan kemunafiqannya atau yang sejenisnya. Inilah jawaban yang benar tentang masalah tersebut.
Kitab Syarah Sahih Muslim, Jilid 5, halaman 56-57
Berkenaan hukum ke atas amalan ummat Muslimin di Malaysia yang turut mengunjungi janazah kafirin serta melakukan perbuatan amalan semasa seperti mengucapkan ta’ziah, menandatangani buku kehadiran, memberi sumbangan dan kadang kala diikuti beberapa ritual lain, saya tidak menemukan keterangan adanya perbuatan sebegini dari amalan Nabi Saw. Adalah diharapkan penanya dapat menghubungi pihak lain yang lebih alim dan faqih lagi berbanding saya untuk mendapatkan penjelasan tentang hal ini serta hukumnya. Saya amat dhaif serta tidak cukup ilmu pengetahuan untuk memberi jawaban mahu pun mengulas terhadap persoalan ini. Sekiranya saya sebutkan juga, ia hanyalah dari emosi semata, dan tidaklah layak sekali-kali keputusan hukum datangnya dari perasaan dan persangkaan.
Yang saya temui sebagai contoh terhampir, hanyalah pernah Nabi Saw. hadir menziarahi seorang anak yahudi yang sedang sakit akan mati (sakaratul maut). Baginda hadir seraya menyerukan Islam kepadanya sebelum dia meninggal dunia. Alhamdulillah beliau meninggal dalam Islam. Kisah ini dinyatakan dalam hadis seperti berikut :
“Dari Anas bin Malik Rhu. dia berkata : Seorang anak yahudi yang berkhidmat dengan Nabi Saw. telah jatuh sakit, maka Baginda telah datang melawatnya. Baginda duduk di sisi kepala serta berkata kepada anak itu : Terimalah Islam (ya’ni masuklah kamu ke dalam agama Islam). Anak itu melihat kepada bapanya yang berada di sisinya, lalu bapanya itu berkata kepadanya : Patuhlah kepada seruan Abu Al Qasim ini. (mendengar bapanya berkata demikian) dia terus menerima agama Islam (dengan mengucapkan dua kalimah syahadah, dan selepas itu meninggal dunia). Selepas itu, Nabi Saw. keluar dari tempat itu lantas bersyukur kepada Allah dengan ucapan : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari api neraka.”
Hadis sahih riwayat imam Bukhari Rhm. (no. 5657), imam Ahmad Rhm. (no. 12381) dan imam Abu Dawud Rhm. (no. 3095)
Setakat ini dahulu yang dapat saya nukilkan dalam hal ini, pada kali ini. Moga-moga catatan ringkas ini memberi manfaat dan telah membantu memberi kefahaman kepada Jama’ah dan para pembaca semua, insyaAllah. .
والله تعالى أعلم , وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين.
Yang benar itu datang dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari saya yang amat dhaif ini.
سكيان , والسلام
eddzahir@38
Tanah Liat, Bukit Mertajam
Langgan:
Catatan (Atom)





