Rabu, 14 November 2012
Manfaat Ilmu dan Larangan Merosakkannya...
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله
و بركاته
وبعد€, يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي
رب إشرح لي صدري و
Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta
sekelian alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw.
Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut
Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikut mereka
dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma ba'du.
Terlebih dahulu saya mengucapkan selamat
menjalani rutin kehidupan sehari-hari kepada semua rakan jamaah serta para
pembaca. Seraya mendoakan agar sentiasa Allah Swt. membimbing dan melindungi
diri kita dari segala macam keburukan dan kejahatan, seterusnya memelihara diri
kita supaya tetap berpegang teguh kepadaNya dan menerima semua amalan kita.
Moga Allah Swt. Yang Maha Esa Yang Maha Dermawan, meredhainya. Saya berlindung
diri dengan Allah Tabaraka Wata’ala dari sebarang kesilapan dan kekhilafan,
serta memohon pimpinanNya sentiasa dalam menghasilkan artikel ini.
Alhamdulillah, saya masih berkesempatan
menukilkan sesuatu tentang ilmu, dan siri ini adalah yang keenam. Banyak juga
saya mendapat maklumbalas dari para jamaah dan pembaca, terkandung juga
beberapa persoalan berkenaan hal ilmu. Terima kasih saya ucapkan kepada semua
maklumbalas tersebut. Sesungguhnya ia benar-benar memberikan semangat untuk
saya terus menyebarkan da’wah dan pengetahuan setakat yang termampu. Berkenaan
persoalan yang dibangkitkan, akan saya beri maklumbalas nanti, InsyaAllah.
Seorang hamba yang sejati adalah seorang
yang beribadah kepada Allah Swt. atas dasar ilmu yang telah jelas kebenaran
baginya. Kerana dengan ilmu, seseorang beribadah kepada Allah Swt. berdasarkan
basirah (mata hati), yang hadir dari nurani paling dalam, maka hatinya akan selalu
terpaut dengan ibadah, dan hatinya pun akan diterangi dengan ibadah itu
sehingga dia melakukannya disebabkan oleh hal itu, dan bukannya sebagai adat
(kebiasaan) ikut-ikutan semata-mata.
Lantaran itu, apabila seseorang
mengerjakan solat berdasarkan sikap begini (dengan ilmu), maka dia termasuk
dalam orang yang dijamin oleh apa yang difirmankan oleh Allah Swt. : Solat itu
akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya melakukan amal
berdasarkan ilmu yang haq ini adalah warisan, suruhan dan jalan yang dibuat
oleh Nabi Saw. sepertimana yang difirmankan oleh Allah Swt. :
“Katakanlah (wahai Muhammad), inilah
jalanku yang lurus, aku mengajak manusia kepada Allah atas dasar ilmu yang aku
lakukan beserta pengikutku. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang
yang musyrik”.
Surah Yusuf (12) : ayat 108
Ilmu syara’ adalah datang dari Allah Swt.
dan dicontohkan oleh rasulNya. Di dalamnya terkandung pujian dan sanjungan
kepada pemiliknya. Akan tetapi, saya tidak mengingkari bahawa ilmu selainnya
juga mengandung faedah, namun secara terbatas. Jika ia membantu dalam
melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt., membela agamaNya dan bermanfaat bagi
kehidupan manusia, maka ilmu itu adalah baik dan maslahat. Terkadang
mempelajarinya menjadi wajib dalam kondisi tertentu jika ia termasuk dalam
rangka firman Allah Swt. :
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
(orang kafir, dengan) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda
yang ditambat…….”
Surah Al Anfaal (8) : ayat 60
Syeikh Muhammad bin Solih Al Utsaimin rh.
Kitaab ul Ilmu, halaman 8-9
Ilmu yang bermanfaat dapat diketahui
dengan melihat tanda-tanda yang ada pada pemilik ilmu itu sendiri, yang di
antaranya :
1. Orang yang bermanfaat
ilmunya tidak menganggap dirinya mempunyai keadaan dan kedudukan yang tinggi
serta hati mereka membenci pujian dari manusia. Tidak menganggap dirinya suci
dan tidak sombong terhadap orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.
2. Pemilik ilmu yang
bermanfaat apabila ilmunya bertambah, meningkat pula rasa tawadhu’, rasa takut,
kehinaan dan ketundukannya di hadapan Allah Swt.
3. Ilmu yang bermanfaat
mengajak pemiliknya lari dari dunia. Yang paling besar adalah kedudukan,
kebenaran dan pujian. Menjauhi hal itu dan bersungguh-sungguh dalam
menjauhkannya, maka hal itu adalah tanda ilmu yang bermanfaat.
4. Pemilik ilmu ini
tidak mengaku-ngaku memiliki ilmu dan tidak berbangga dengannya terhadap
seorang pun. Tidak jua dia menisbatkan kebodohan kepada seseorang pun kecuali
seseorang yang jelas-jelas menyalahi sunnah dan ahlus sunnah. Ia marah
kepadanya kerana Allah Swt. semata-mata bukan kerana peribadinya dan, tidak
pula bermaksud meninggikan kedudukan dirinya sendiri di atas seseorang pun.
Syeikh Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Kitab
Thalabul ilman Thariiqu ilal Jannah (Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga),
halaman 26-27
Syeikhul Islam Taqiyuddin Ahmad Bin Abdul
Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah Bin Muhammad Ibnu Taimiyyah Al Harrani Ad
Dimasyqi rh. (wafat 728H) menyebutkan : Ilmu adalah apa yang dibangunkan di
atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah
Saw. Terkadang ada ilmu yang tidak dibawa secara langsung oleh Rasulullah Saw.
seperti dalam urusan duniawi yaitu perubatan, ilmu hisab, ilmu pertanian dan
ilmu perdagangan.
Kitab Majmu’ Fatawaa, Jilid 6 halaman 388
Dari satu sisi lain beliau menjelaskan :
Ilmu yang bermanfaat ini, yang merupakan tiang dan asas dari hikmah Allah Swt.,
terbahagi kepada tiga bahagian. Beliau seterusnya menegaskan bahawa : ilmu yang
terpuji, yang ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah adalah ilmu yang
diwariskan dari para nabi sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Tiga bahagian ilmu
itu adalah :
1. Ilmu tentang Allah
Swt., nama-nama dan sifat-sifatnya serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Contohnya
adalah sebagaimana Allah Swt. menurunkan Surah Al Ikhlas, Ayat Kursi dan
sebagainya.
2. Ilmu mengenai berita
dari Allah Swt. tentang hal-hal yang telah terjadi dan akan terjadi di masa
akan datang serta yang sedang terjadi. Contohnya adalah Allah Swt. menurunkan
ayat-ayat tentang kisah, janji, ancaman, sifat syurga, sifat neraka dan
sebagainya.
3. Ilmu mengenai
perintah Allah Swt. yang berkaitan dengan hati dan perbuatan-perbuatan anggota
tubuh, seperti beriman kepada Allah, ilmu pengetahuan tentang hati dan
kondisinya, serta perkataan dan perbuatan anggota badan. Dan hal ini termasuk
di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar keimanan dan tentang kaedah-kaedah Islam
dan masuk di dalamnya ilmu yang membahas tentang perkataan dan
perbuatan-perbuatan yang zahir, seperti ilmu-ilmu fiqh yang membahas tentang
hukum amal perbuatan. Dan hal itu merupakan bahagian dari ilmu agama Islam.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rh. Kitab
Majmu’ Fatawaa, Jilid 11 halaman 396-397
Dalam satu bab lain, beliau rh. turut
menyatakan bahawa : Telah berkata Yahya bin Amar rh. (wafat 422H), ilmu itu ada
lima bahagian, yang terkandung didalamnya yang memberi manfaat dan yang tidak
memberi manfaat :
1. Ilmu yang merupakan
kehidupan bagi agama Islam, yaitu ilmu tauhid.
2. Ilmu yang merupakan
santapan agama Islam, yaitu ilmu tentang mempelajari makna-makna Al Qur’an dan
hadis.
3. Ilmu yang merupakan
ubat agama Islam, yaitu ilmu fatwa. Apabila sesuatu musibah (malapetaka) datang
kepada seorang hamba, ia memerlukan orang yang mampu menyembuhkannya dari
musibah itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Rhu.
4. Ilmu yang merupakan
penyakit bagi agama Islam, yaitu ilmu kalam dan bid’ah
5. Ilmu yang merupakan
kebinasaan bagi agama Islam, yaitu ilmu sihir dan yang sepertinya
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rh. Kitab
Majmu’ Fatawaa, Jilid 10 halaman 145-146
Allah Swt. telah menerangkan tentang
betapa besarnya manfaat ilmu dan kelebihan orang yang berilmu dalam banyak
ayat. Salah satunya adalah :
“Dan agar orang-orang yang telah diberi
ilmu, meyakini bahawasanya dia (Al Qur’an) itulah yang haq dari Tuhanmu lalu
mereka beriman lalu tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah
Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.
Surah Al Hajj (22) : ayat 54
Ayat ini membawa maksud : Agar orang-orang
yang diberi ilmu, yaitu orang-orang yang dapat membezakan antara yang haq
dengan yang batil dengan ilmunya, mengetahui bahawa Al Qur’an adalah kebenaran
yang turun daripada Allah kepadamu Wahai Muhammad. Tidak ada keraguan
didalamnya dan tidak ada jalan untuk syaitan (untuk) merosaknya. Dengan
demikian, keimanan mereka bertambah dan hati mereka tunduk patuh kepadanya.
Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa
kepadaNya dan kepada rasulNya, kepada jalan yang haq lagi nyata, yaitu agama
suci Islam yang akan menyelamatkan mereka dari kesesatan.
Rabbitah Al Alam Al Islamy, Tafsir Al
Muyassar, Jeddah KSA
Dalam satu ayat lagi, Allah Swt.
menjelaskan :
“Katakanlah (wahai Muhammad kepada
mereka), Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak
berilmu? Hanya orang-orang yang berakal yang boleh mengambil pelajaran”.
Surah az-Zumar (39) : ayat 9
Dari ayat ini, Abdullah Ibnu ‘Abbas Rhu. menyatakan
: Syarat bagi seseorang untuk dikatakan sebagai ‘alim tentang Allah yang Maha
Pengasih di antara hamba-hamba-Nya adalah tidak mensyirikkan Allah,
menghalalkan dan mengharamkan sebagaimana yang ditetapkan Allah, menjaga dan
memelihara tuntutan dan kehendak Allah, meyakini bahawa Allah akan menemuinya
dan menghisap amal perbuatannya.
Tafsiirul Qur’an ul Adziim (Tafsir Ibnu
Katsir), Jilid 6 halaman 544
Demikianlah Allah Swt. sangat memuji ilmu
serta mendorong hamba-hambaNya untuk mencari ilmu dan membekali diri dengannya.
Manusia dilahirkan sama sifat dan perangainya sehingga sukar dibeza kalau pun
dasar penciptaannya adalah sama yaitu untuk menyembah Allah Swt. Namun
begitu, sesungguhnya perbezaan itu tetap jua boleh dikenalpasti, yaitu dengan
ilmulah yang membezakan manusia. Demikianlah hebatnya manfaat ilmu.
Begitulah secara dasar betapa tingginya
manfaat ilmu dan kelebihan orang berilmu di sisi Allah Swt. dan rasulNya.
Manfaat ilmu dan kelebihan terbesar mereka adalah upaya membezakan antara yang
haq dengan yang batil, mengakui Al Qur’an adalah kebenaran yang turun daripada
Allah, mematuhi syariat Nabi Muhammad Saw. dan, keimanan mereka bertambah dan
mereka tunduk patuh kepadaNya. Seterusnya hidup dalam petunjuk, beriman dan
bertaqwa kepadaNya dan kepada rasulNya, sepertimana tuntutan agama suci Islam
yang haq. Sedangkan sebelum datangnya Nabi Saw. membawa ilmu yang haq ini,
semua manusia didalam kesesatan. Ini dinyatakan oleh Allah Swt. dalam firmanNya
:
“Sesungguhnya Allah telah memberi kurnia
kepada orang-orang yang beriman (bangsa Arab), ketika Allah mengutus di
kalangan mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri. Ia membacakan
kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan Al
Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka
berada di dalam kesesatan yang nyata”.
Surah Aali Imran (3) : ayat 164
Tafsir ayat ini - Sesungguhnya Allah telah
memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman (bangsa Arab), ketika Allah
mengutus di kalangan mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Al Qur’an, dan menyucikan diri-diri mereka
dari syirik dan akhlak yang rosak, dan mengajarkan mereka Al Qur’an dan As
Sunnah. Sesungguhnya sebelum kedatangan Rasulullah itu, mereka benar-benar di
dalam kesesatan dan kejahilan yang nyata”.
Rabbitah Al Alam Al Islamy, Tafsir Al
Muyassar, Jeddah KSA
Berkenaan manfaatnya ilmu, Imam Al Hafiz
Zainuddin Abdur Rahman bin Ahmad bin Abdur Rahman bin Al Hassan As Sulami Al Baghdadi
Al Hanbali rh. (Ibnu Rajab Al Hanbali – wafat 795H), mengatakan, ilmu yang
bermanfaat akan menuntun kepada 2 perkara yaitu :
1. Mengenal Allah Taala
dan segala apa yang menjadi hakNya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat
yang tinggi dan perbuatan-peerbuatan yang agung. Hal ini mengharuskan adanya
pengagungan, rasa takut, cinta, harap dan tawakkal kepada Allah serta
melahirkan redha terhadap taqdir dan sabar atas segala musibah yang Allah
Ta’ala berikan.
2. Mengetahui segala
yang diredhai dan dicintai oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang
dibenci dan dimurkaiNya berupa keyakinan, perbuatan yang zahir dan batin serta
ucapan. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya bersegera untuk melakukan
segala apa yang diredhai dan dicintai Allah Taala dan menjauhi segala apa yang
dibenci dan dimurkaiNya.
Apabila ilmu itu menghasilkan hal begini
bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Bila-bila sahaja ilmu itu
bermanfaat dan menusuk di dalam hati, maka sungguh, hati akan merasa khuyu’,
takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah Taala. Maka jiwa merasa cukup
dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya
sehingga hal itu menjadikannya qana’ah (murah hati) dan zuhud di dunia.
Imam Al Hafiz Ibnu Rajab Al Hanbali rh.
Kitab Fadhlu Ilmi Salaf Alal Khalaf, halaman 11-13. Dinukil dari kitab takhrij
dan ta’liq oleh Syeikh Ali bin Hassan bin Ali Abdul Hamid
Terkadang Allah Swt. mengkhabarkan tentang
suatu kaum yang diberikan ilmu, namun ilmu yang ada pada mereka tidak
mendatangkan manfaat. Itu adalah ilmu yang bermanfaat hakikatnya, akan tetapi
penerimanya tidak memperlakukannya secara memberi manfaat. Hal ini diceritakan
oleh Alah Swt. :
“Perumpamaan orang yang diberi tugas
membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah
seperti kaldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk kaum yang
mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim”.
Surah Al Jumu’ah (62) : ayat 5
Dan firmanNya lagi :
“Mereka hanya mengetahui yang lahir
(tampak) dari kehidupan dunia ; sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka
lalai”.
Surah Ar Ruum (30) : ayat 7
Kerana itulah As Sunnah membahagikan ilmu
yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat kepada ummat muslimin, supaya
perbezaan diantara keduanyanya dikenali. Seterusnya menganjurkan supaya ummat
mukminin berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat sebaliknya sentiasa
bermohon kepada Allah untuk menuntut, berpegang, beramal dan istiqomah dengan
ilmu yang bermanfaat.
Dan pasti sekali ilmu yang haq itu adalah
Al Qur’an dan As Sunnah Nabi Saw. serta apa jua ilmu pengetahuan yang
bertunjangkan ketundukpatuhan kepadanya. Justeru itulah Allah Swt. menyuruh
supaya berpegang teguh kepada ilmu yang haq (Al Qur’an dan As Sunnah) dan
jangan sesekali berpegang kepada selain daripada itu menerusi firmanNya :
“Bahawasanya inilah jalan Ku yang lurus,
maka ikutlah kamu akan dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain,
yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah. Itulah perintah Tuhan
kepadamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.
Surah Al An’aam (6) : ayat 153
Selain dari perintah supaya berpegang
teguh kepada ilmu yang haq, Allah Swt. juga berpesan seraya melarang ummat
muslimin daripada merosakkan ilmu yang haq itu dengan melakukan perkara yang
dilarang. Ummat muslimin dilarang sama sekali melakukan tasyabbuh (menyerupai
orang-orang kafir) dalam aspek kehidupan biasa mahu pun dalan amalan beragama
mereka, lantaran Islam diturunkan cukup lengkap syariat dan peraturannya,
kerana ia termasuk dalam perbuatan kesesatan sepertimana firman Allah Swt. :
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas
satu syari’at (peraturan) dari urusan (agama), maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.
Surah Al Jatsiyah (45) : ayat 18
Allah Swt. menurunkan ilmu yang haq itu
kepada seluruh ummat manusia dan dicontohkan pula pemahaman dan amalannya oleh
rasulNya. Ia terkandung suruhan dan juga larangan secara jelas dan nyata demi
kebaikan manusia di dunia mahu pun di akhirat, tanpa sesuatu apa pun yang
tersembunyi atau tidak lengkap. Seterusnya dituntut ummat mukminin menerima
ilmu yang haq itu secara kaffah (keseluruhan) bukannya menerima yang disukai
sahaja dan menolak sebahagian yang lain sepertimana perbuatan kaum yahudi dan
nasrani.
Kerana itu, Allah Swt. memberi peringatan
bahawa orang-orang yang telah datang kepada mereka pengetahuan, namun mereka
memilih untuk mengkesampingkan kebenaran itu lantaran mengikut hawa nafsu atau
apa-apa jua sebab yang bukan dengan keredhaan Allah Swt., maka sesungguhnya
mereka tidak akan mendapat perlindungan dari siksaan Allah Swt. yang amat
pedih. Begitulah dimaksudkan oleh Allah Swt. lewat KalamNya :
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab
kepada mereka (yahudi dan nasrani yang masuk Islam) bergembira dengan Kitab
yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (yahudi dan nasrani)
yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah : sesungguhnya
aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu
pun dengan Dia. Hanya kepadaNya aku seru (manusia) dan hanya kepadaNya aku
kembali.
Dan demikianlah, Kami telah turunkan Al
Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam Bahasa Arab, dan seandainya
kamu mengikut hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu maka
sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”.
Surah Ar Ra’du (13) : ayat 36-37
Allah Swt. menurunkan ilmu yang haq yang
dengannya ummat mukminin diperintahkan supaya menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf, ajakan kepada agama Islam dan mentaati segala
syari’atnya dan mencegah dari yang mungkar bagi semua yang menyalahi petunjuk
Nabi Saw. Dan Allah Swt. berpesan supaya tidak menjadi seumpama golongan
kafirun yang menyebar permusuhan dan kebencian sesama mereka, lalu mereka
berpecah dan bercerai berai kepada beberapa kelompok. Mereka berselisih tentang
pokok-pokok agama sedangkan telah datang kepada mereka keterangan yang jelas
dan nyata. Demikianlah pesanan dan larangan Allah Swt. kepada kaum muslimin
dalam firmanNya :
“Dan hendaklah di antara kamu, ada
segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf
dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang
yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang
jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat”.
Surah Aali Imran (3) : ayat 104-105
Satu lagi kerosakan terbesar dalam ilmu
dan perbuatan amat terlarang adalah perangai menyembunyikan ilmu atau
mencampuradukkannya demi untuk mencapai sesuatu maksud. Ummat muslimin disuruh
berkata benar dan berdiri teguh atas ilmu yang haq seraya menyebarkan kebenaran
itu ke seluruh alam. Tugas mukminin sebagai hamba Allah Swt. untuk menyembahNya
dengan mempelajari ilmu, mentaati dan menyampaikannya. Perbuatan menyembunyikan
ilmu kebenaran adalah suatu dosa besar yang tidak sepatutnya diperlakukan.
Begitu juga, sangat terlarang mencampuradukkan kebenaran yang di datangkan
Allah Swt. dengan kebatilan yang diada-adakan oleh syaitan dan manusia (waima
sesiapa pun).
Hakikatnya, perbuatan mencampuradukan
antara yang haq dengan yang batil ini adalah menyembunyikan al haq (kebenaran)
dan memesongkan makna ilmu pengetahuan dari pemahaman sebenarnya. Ini perbuatan
amat batil dan besar dosanya. Demikianlah pesanan Allah Swt. di dalam KalamNya
:
“Dan janganlah (sekali-kali) kamu mencampuradukkan
kebenaran dengan kebatilan, dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran,
sedangkan kamu mengetahuinya”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 42
Dalam satu ayat lain, Allah Swt. dan
seluruh makhluk lain melaknati manusia yang menyembunyikan ilmu, dalam
firmanNya :
“Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang telah kami turunkan, berupa keterangan-keterangan (yang
jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab
(Al Qur’an), mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua
(makhluk) yang dapat melaknati”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 159
Begitu juga, satu lagi gejala kerosakan
ilmu yang sering dilakukan oleh ummat manusia adalah tidak mengamalkan ilmu
yang diperolehi dan ini merupakan perbuatan yang menyebabkan hilangnya barokah
ilmu. Sesungguhnya, seseorang yang memiliki ilmu akan diminta
pertanggungjawaban atas ilmunya oleh Allah Swt. Orang sebegini hampir mencapai
tahap munafiq lantaran hanya tahu dan pandai berkata-kata, namun gagal untuk
melaksanakan hatta dalam diri sendiri pun. Benar Allah Swt. sangat membenci dan
mencela orang-orang yang melakukan perbuatan ini menerusi firmanNya :
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa
kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian disisi
Allah bahawa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.
Surah As Saff (61) : ayat 2-3
Demikian juga, amat dilarang dan dicela
sikap manusia yang menjadi ulama’ suu’ (jahat dan buruk), yang dengan ilmunya
dia ingin mendapatkan sanjungan manusia serta mengharapkan habuan dunia. Mereka
akan sembunyikan yang haq juga memesongkan makna kebenaran dari Allah Swt. dan
rasulNya, dengan mengikut apa sahaja yang membuatkan orang suka, bukan
mengatakan hukum sebenarnya demi memastikan mereka akan mendapat habuan
darinya.
Disebabkan perangai mereka inilah, yang
haq dan yang batil telah bercampur aduk sehingga yang haq itu menjadi
tersembunyi, tidak lagi dikenali dan terkesamping. Mereka inilah menjadi punca
membiaknya segala macam bid’ah, khurafat dan kemungkaran dalam masyarakat.
Golongan ini adalah ulama’ yang rela menyesatkan diri demi mengharapkan
habuan dan natijahnya telah menyesatkan jutaan ummat lain. Kepada mereka ini
junjungan mulia Nabi Saw. telah berpesan :
“Dari Abu Hurairah Rhu. ia berkata
bahawasanya Nabi Saw. bersabda : Barang siapa mempelajari sesuatu ilmu, yang
dengan ilmu itu semestinya dia mencari wajah Allah, (akan tetapi) dia tidak
mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan kekayaan dunia, maka dia tidak akan
mencium bau syurga pada hari qiyamat”.
Hadis sahih riwayat imam Abu Daud rh. imam
Ibnu Majah rh. imam Ahmad rh. dan imam Ibu Hibban rh.
Akhirul Kalaam : setakat ini dahulu
nukilan saya kali ini. Saya menyeru, marilah bersama kita mencari dan menuntut
ilmu, seterusnya mengamalkan dan menyampaikannya. Menerusi cara inilah ilmu itu
dapat dimanfaatkan dan akan menjadi saksi kebenaran ke atas untung nasib diri
kita di hari akhirat nanti. Dan bersama lah kita memohon kepada Allah Azza
Wajalla agar menjadikan kita golongan penegak ilmu yang haq dan tidak sesekali
menjadi golongan yang merosakkannya. Mudah-mudahan sumbangan kecil ini memberi
manfaat kepada kita semua terutamanya kepada diri saya sendiri.
“Dari Abu Hurairah Rhu. ia berkata
bahawasanya Nabi Saw bersabda : Barang siapa yang mempelajari ilmu untuk
berbangga-bangga di hadapan para ulama’ dan untuk berdebat dengan orang-orang
bodoh serta mencari perhatian orang banyak, maka Allah telah memasukkannya ke
dalam neraka jahannam”.
Hadis hasan riwayat imam Ibnu Majah rh.
(No. 260)
والله
تعالى أعلم
Yang benar itu datang dari Allah Swt. dan
Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari saya yang amat dhaif ini.
سكيان , والسلام
eddzahir@38
Tanah Liat, Bukit Mertajam
Jumaat, 26 Oktober 2012
Peringatan Allah Tentang Orang Kafir
Peringatan Allah Tentang Orang Kafir
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله
و بركاته
وبعد, يسرلي أمري وأحلل عقدة من
لساني يفقهوا قولي رب إشرح لي صدري و
Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta
sekelian alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw.
Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut
Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikut mereka
dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma ba'du.
Terlebih dahulu saya mengucapkan selamat
menjalani rutin kehidupan sehari-hari kepada semua jamaah seraya mendoakan agar
sentiasa Allah Swt. membimbing dan melindungi diri kita dari segala macam
keburukan dan kejahatan, seterusnya memelihara diri kita supaya tetap berpegang
teguh kepadaNya dan menerima semua amalan kita. Saya berlindung diri dengan
Allah Tabaraka Wata’ala dari sebarang kesilapan dan kekhilafan, serta memohon
pimpinanNya sentiasa dalam menukilkan artikel ini.
Saya ada menerima 7 soalan juga permintaan
supaya memberikan maklumbalas berkenaan hal mengundi orang kafir, memilih orang
kafir sebagai pemimpin, menjadikan orang kafir sebagai idola, sebagai teman aqrab,
mempercayai orang kafir sebagai pemimpin lebih baik dari saudara Muslim sendiri
dan seterusnya menuntut penjelasan menurut syara’ yang sebenarnya. Saya dapati
soalan-soalan sebegini hadir pada musim politik tanahair ketika ini sedang
hangat dengan isu kafir dan yang sama waqtu dengannya.
Alam politik ini rupanya macam buah-buahan
juga, ada musim-musimnya. Sepanjang pengetahuan saya juga, perkara ini sudah
pun berlarutan puluhan tahun, macam biskut sekejap timbul sekejap tenggelam.
Selalunya timbul dengan hangat bila menjelang pilihanraya. Yang menjengkelkan,
sehingga kini tiada satu apa pun consensus dan kesudahan yang dapat dicapai,
melainkan terus menjadi polemic dan punca perbalahan tanpa henti-henti.
Baik sekali saya sebutkan, ulangan yang
entah ke berapa kali, saya memang kurang gemar memberikan ulasan ke atas isu
semasa begini kerana tidak suka terlibat dengan kontroversi dan kekecohan. Terlalu
banyak hal yang kita-kita ini terlebih emosional dari rasional serta lebih
perasaan dari fikiran terutamanya dalam hal politik dan agama. Kita-kita ini
lebih suka mengikut "lubang biawak' masing-masing berbanding bermanhaj
“Wasithiyah” seterusnya mencari yang Haq yaitu Kitabullah dan as sunnah
rasulNya sebagai "sebaik-baik penghuraian".
Oleh itu, sesiapa rakan serta pembaca yang berminat untuk terus membaca artikel maklumbalas ini disebalik muqaddimah yang tak sedap di dengar ini, dipersilakanlah membacanya sehingga habis dan boleh di'forward'kan kemana-mana, hakcipta tak terpelihara dan saya bertangungjawab penuh ke atasnya.
Baik sekali saya mulakan dengan ayat Allah Swt. yang dengan sendiri telah menjelaskan maksudnya.
“Sekali-kali tidak akan orang yahudi dan
nasrani redha (suka) kepada kamu sehingga kamu mengikut agama mereka.
Katakanlah (wahai Muhammad), sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
benar). Dan sesungguhnya, jika kamu ikut kemahuan mereka setelah pengetahuan
datang kepada kamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong
bagimu”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 120
Ibnu Jarir rh. menyatakan : yang
dimaksudkan dengan firmanNya itu adalah, Wahai Muhammad, orang-orang yahudi dan
nasrani tidak akan pernah redha kepadamu selamanya, kerana itu tak usah lagi
kamu cari hal yang dapat menjadikan mereka rela dan sejalan dengan mereka. Akan
tetapi, arahkan perhatian kamu untuk mencapai redha Allah dengan mengajak
mereka kepada Al Haq (kebenaran) yang kamu diutus dengannya. Dan firmanNya “Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar)” berarti : Katakanlah wahai Muhammad,
sesungguhnya petunjuk Allah yang Dia telah mengutusku dengannya adalah petunjuk
yang sebenarnya, yaitu Ad Diin yang lurus, benar, sempurna dan menyeluruh.
Dalam ayat tersebut terdapat ancaman keras
terhadap ummat yang mengikuti cara-cara yahudi dan nasrani setelah mengetahui
isi Al Qur’an dan As Sunnah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal
itu. Khithab (sasaran pembicaraan) dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah
Saw. tetapi perintahnya ditujukan kepada seluruh ummatnya. Majoriti fuqaha’
menggunakan firman Allah “sehingga kamu
mengikut agama mereka” sebagai dalil bahawa semua kekufuran itu adalah satu
Millah (agama), kerana Allah telah menggunakan kata Millah dalam bentuk mufrad
(tunggal) seperti juga yang difirmankan Allah Ta’ala “bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku” (Surah Al Kafirun (109) :
ayat 6).
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir rh.
Tafsiir ul Qur’an ul Adziim, Jilid 1, halaman 242
Secara
ringkas, makna kafir secara lughah (bahasa) berasal dari mufradat kufr
yang berarti ingkar, menolak atau menutup. Ingkar yang dimaksudkan adalah tidak mahu
patuh dan menentang arahan Allah Swt. dan rasulNya. Lantaran lafadz kata kafir
ini datangnya dari Kalamullah, ia telah diterangkan sendiri oleh Allah Swt. di
dalam Al Qur'an ul Adziim dalam banyak ayat dengan berbagai bentuk dan sifat. Secara
umum, dari segi isthilah (syara’) berarti orang-orang yang (secara i’tiqad dan
amaliyah) tidak menerima Islam sebagai Ad Diin dan tidak mahu tunduk patuh
kepadanya. Dalam kata lain, orang-orang tidak beriman kepada Allah Swt. dan
rasulNya ya’ni bukan Islam.
Diantara
ayat yang memberikan makna kafir secara umum ini adalah :-
“Sesungguhnya
orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, (sama ada) kamu beri peringatan atau
tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 6
"… Maka ada di antara mereka yang
beriman dan ada pula di antara mereka yang kafir.."
Surah Al Baqarah (2) : ayat 253
"Allah
pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung
mereka ialah taghut (syaitan) yang mengeluarkan mereka daripada cahaya (iman)
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal
didalamnya."
Surah Al Baqarah (2) : ayat 257
Allah Ta’ala memberitahukan, bahawa Dia
akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang mengikuti keredhaanNya menuju
jalan keselamatan. Dia mengeluarkan hamba-hambaNya yang beriman dari gelapnya
kekufuran dan keraguan menuju cahaya kebenaran yang sangat jelas, terang, mudah
dan bersinar. Sedangkan pelindung orang-orang kafir adalah syaitan yang
menjadikan kebodohan dan kesesatan itu indah dalam pandangan mereka serta
mengeluarkan mereka dari jalan kebenaran menuju kekufuran, kesesatan dan
kebohongan, dan “mereka itu adalah
penghuni neraka, mereka kekal didalamnya".
Oleh kerana itu, Allah Ta’ala
menyebutkan kata an-nuur dalam bentuk
mufrad (tunggal) dan kata adz-dzulumaat
dalam bentuk jama’ (banyak) kerana kebenaran itu hanyalah satu sedangkan
kekufuran mempunyai jenis yang beragam dan semua sekalinya adalah batil
(palsu), sebagaimana firmanNya : Dan
bahawasanya (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, ikutilah
dia, dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada
kamu agar kamu bertaqwa (surah Al An’am (6) : ayat 153).
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir rh.
Tafsiir ul Qur’an ul Adziim, Jilid 1, halaman 518-519
Begitu juga, sifat kufur itu boleh terjadi
ke atas sesiapa sahaja termasuk ummat Islam sendiri pun sekiranya disebalik segala
macam sifat dan gambaran keIslaman yang mereka bawa, tersembunyi hakikat bahawa
mereka meyakini, melazimi, mempercayai dan mengamalkan sesuatu amalan, perbuatan,
kepercayaan dan apa-apa jua amalan ritual dan spiritual yang bertentangan
dengan perintah Allah Swt. dan As Sunnah rasulNya. Ini dinyatakan oleh Allah Ta’ala
dalam firmanNya :
“Dan barangsiapa yang mencari (memilih)
agama selain Ad Diin ul Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
daripadanya, dan dia diakhirat (nanti) termasuk orang-orang yang rugi”.
Surah Ali Imran (3) : ayat 85
Orang-orang yang beriman dari ummat ini
(ummat Muhammad) beriman kepada seluruh nabi yang diutusNya dan semua Kitab
yang diturunkan, tidak sedikit pun yang mengingkarinya, bahkan mereka
membenarkan apa saja yang diturunkan dari sisi Allah, dan membenarkan semua
nabi yang diutus Allah. Maka barangsiapa yang memilih (menempuh) jalan selain
yang telah disyariatkan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya. Sebagaimana
yang 1elah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadis sahih : Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya
dari kami, maka amalan itu ditolak.
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir rh.
Tafsiir ul Qur’an ul Adziim, Jilid 2, halaman 84-85
Arti dinyatakan Al Qur’an itu sudah cukup jelas memberitahukan apa
dan siapa yang dimaksudkan kafir itu. Waima siapa pun orangnya, jika tidak mahu
mengucapkan 2 kalimah syahadah adalah kafir. Barang siapa yang tidak mahu
mengakui Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi, tiada
yang selainNya dan mengingkari (menolak) bahawa Nabi Muhammad Saw. sebagai
utusanNya adalah juga kafir. Begitu juga sesiapa pun jua yang membesarkan
sesuatu yang dibikin manusia atau syaitan bertopengkan manusia sebagai lebih
tinggi dari ketentuan yang dibuat oleh Allah dan utusanNya, maka adalah juga
kafir.
Justeru itu, tidak perlulah berdolak dalik lagi dengan segala bentuk
kata-kata merapu meraban kalau pun dengan bahasa yang sedap didengar seraya
memukaukan, tiada yang tidak jelas pada kalamullah dan as sunnah rasulNya dalam
memaknakan siapa kafir itu termasuk segala macam sikap dan sifat perbuatannya, sehingga
tidak memerlukan sesiapa pun ummat manusia untuk bersusah payah lagi memutar
otak yang sedia berkarat bagi mencari makna dan definisi kafir, secara syok
sendiri.
Tidak usah diserabutkan dan diselewengkan lagi dengan makna yang
kabur-kabur dan memualkan, misalnya slogan janganlah menyebut orang sebagai
kafir sekalipun jelas terang lagi bersuluh di tengah hari bahawa mereka menolak
hukum Allah, menghukumi orang yang mau belajar Al Qur’an tapi tidak mau masuk
Islam, mereka ini tidak boleh disebut kafir, orang yang memberi lebih banyak
wang bajet tidak boleh disebut kafir, orang yang lebih pandai belit dan bodek
tidak boleh disebut kafir, padahal jelas mereka ini bukan Islam. Begitulah tafsiran
dan fahaman amat aneh yang sudah merebak dalam pikiran banyak orang. Jelasnya,
kalaulah bukan Islam tidak boleh dikatakan kafir, lantas untuk apa lafaz kafir
itu disebutkan Allah Ta’ala lewat kalamNya?
Paling menjengkelkan, hal sebaliknya pula berlaku dalam muammalah
sesama Muslim, bahkan dengan begitu berleluasa. Pantang ada salah silap,
pantang ada beza pendapat, pantang ada beza pendirian kalau pun perkara titik
bengek, maka lancang lah mulut mengungkapkan kata kafir. Habis segala macam ayat,
hadis dan kalam para ulama’ dipilih dan ditapis lantas diguna untuk semata-mata
mengkafirkan orang disamping membetulkan diri sendiri. Entah apalah jenis
fahaman ini, kepada bukan Islam dicipta segala macam alasan lantaran tidak
tergamak menyebut kafir, tetapi sesama Islam menjadi begitu mudah pula. Mungkin
juga, sekarang sudah ada tafsiran kafir lebih baharu yang saya serba dhaif ini telah
pun ketinggalan.
Saya
menyedari bahawa semua penanya bertumpu kepada situasi yang berlaku dalam gerakan
hizbi dan haraki (parti politik) semasa. Namun dengan jelas ingin saya
maklumkan bahawa, amat tidak wajar untuk saya bercakap dalam perspektif mereka,
lantaran saya bukanlah sebahagian dari mereka sementelahan saya memang tidak
berminat pun. Dalam beberapa hal tertentu, lebih molek mereka sendiri yang
menjawab dan memberi hujjah ke atas kata-kata dan pendirian mereka. Begitulah
sebaik-baiknya. Apa yang mampu saya katakan hanyalah menyampaikan kalamullah
dengan segala peringatan lantaran Islam yang suci ini adalah rahmat kepada
seluruh alam, bukan sekadar terbantut dan berlegar-legar dalam dalam tempurung gerakan
hizbi dan haraki sahaja.
Seharusnya
kita sedari dan akui, salah satu faktor susahnya ummat Islam bersatu dan
bersepakat dalam bayak hal adalah disebabkan peranan orang kafir dalam
mengadu-dombakan ummat Islam. Kerana itulah, Allah Swt. melarang ummat Mukmin,
supaya tidak mengambil orang kafir sebagai orang kepercayaan disebabkan sikap
dan hasad buruk yang tersirat di dalam diri mereka. Mereka berpura baik dan
manis mulut di depan kita tetapi mendoakan dan mengusahakan kecelakaan ke atas
kita dibelakang. Itulah yang disebut Allah Swt. di dalam Al Qur'an ul Qadiir :
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu
orang-orang yang di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu.
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati
mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat
(Kami), jika kamu memahaminya".
Surah
Ali Imran (3) : ayat 118
“Beginilah
kamu (orang-orang yang melanggar larangan), kamu (sahajalah) yang menyukai
(percayakan) mereka, sedangkan mereka tidak suka kepada kamu. kamu juga beriman
kepada segala Kitab Allah (sedang mereka tidak beriman kepada Al-Quran). Dan
apabila mereka bertemu dengan kamu mereka berkata: “Kami beriman”, tetapi
apabila mereka berkumpul sesama sendiri, mereka menggigit hujung jari kerana
geram marah (kepada kamu), katakanlah (wahai Muhammad): “Matilah kamu dengan
kemarahan kamu itu”. Sesungguhnya Allah sentiasa mengetahui akan segala (isi
hati) yang ada di dalam dada”.
Surah
Ali Imran (3) : ayat 119
“Kalau kamu beroleh kebaikan (kemakmuran dan kemenangan, maka yang demikian) menyakitkan hati mereka; dan jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira dengannya. Dan kalau kamu sabar dan bertaqwa, (maka) tipu daya mereka tidak akan membahayakan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah meliputi pengetahuanNya akan apa yang mereka lakukan”.
Surah
Ali Imran (3) : ayat 120
Allah
Tabaraka Wata’ala melarang hamba-hambanya yang beriman menjadikan orang kafir
sebagai teman kepercayaan. Yakni mereka akan membukakan rahsia dan segala yang
tersembunyi kepada musuh orang-orang Islam. Dan orang-orang kafir itu, dengan
segenap daya dan kekuatannya, tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan
bagi orang-orang Islam. Yakni selalu berusaha keras untuk menyelisihi dan
menjerumuskan orang Islam ke dalam bahaya dengan segala cara serta melakukan
berbagai tipu muslihat yang dapat dilakukan. Mereka juga menyukai dapat
menyulitkan, melukai dan menyusahkan orang-orang Islam.
Keadaan
ini menunjukkan kerasnya permusuhan (dan kebencian) mereka terhadap orang
Islam. Yaitu ketika orang Islam mendapatkan kebahagiaan, kemenangan dan
dokongan, serta bertambah banyak dan semakin kuat para pendokongnya, maka orang
kafir itu bersedih hati. Dan sebaliknya jika ummat Islam ditimpa kesulitan atau
menderita kekalahan dari musuh-musuhnya, berupa kekalahan kerana suatu hikmah
yang dikehendaki Allah, maka orang kafir itu bergembira dan bersuka-cita.
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir rh.
Tafsiir ul Qur’an ul Adziim, Jilid 2, halaman 121-123
Sebahagian besar ahli kitab berhasrat dan
berangan-angan supaya mereka dapat mengembalikan orang Islam kepada kekafiran (murtad)
yakni menyembah berhala setelah beriman. Ini disebabkan rasa kedengkian yang
amat menebal di dalam hati mereka. Hal ini dijelaskan Allah Swt. dalam ayat
berikut :
“Banyak di antara Ahli kitab (Yahudi dan
Nasrani) suka kalaulah kiranya mereka dapat mengembalikan kamu menjadi kafir
setelah kamu beriman, kerana dengki yang timbul dari diri mereka sendiri,
sesudah nyata kepada mereka kebenaran (Nabi Muhammad s.a.w). Oleh itu,
maafkanlah dan biarkanlah oleh kamu (akan mereka), sehingga Allah datangkan
perintahNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 109
Sesungguhnya
Allah melarang keras orang-orang mukmin dari mengambil yahudi dan nasrani
sebagai teman rapat dan kepercayaan, lantaran mereka ini rapat antara satu sama
lain dalam memusuhi Islam. Mala h Allah memberikan amaran bahawa sesiapa yang
melanggar perintahnya dengan mengambil yahudi dan nasrani sebagai teman rapat,
sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani itu sebagai teman rapat, kerana setengah mereka menjadi teman rapat
kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka
teman rapatnya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu.
Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang berlaku zalim”.
Surah
Al Maaidah (5) : ayat 51
Demi untuk menentang Islam, mereka
bersatu. Bahkan mereka juga mengatakan :
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani)
berkata pula : “Tidak sekali-kali akan masuk syurga melainkan orang-orang
yang berugama Yahudi atau Nasrani“. Yang demikian itu hanyalah
angan-angan mereka sahaja. Katakanlah (wahai Muhammad) : “Bawalah kemari
keterangan-keterangan yang (membuktikan kebenaran) apa yang kamu katakan itu,
jika betul kamu orang-orang yang benar”.
Surah Al Baqarah (2) : ayat 111
Sesungguhnya
Allah melarang keras orang-orang mukmin mengambil para kafirin sebagai wali
sehingga meninggalkan orang Islam sendiri, menerusi firmanNya di dalam Al
Qur’an ul Razaaq :
“Janganlah
orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali(A) dengan
meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, nescaya lepaslah
dia dari pertolongan Allah kecuali kerana (siyasah) memelihara diri dari
sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap
diri-(siksaan)Nya. Dan hanya kepada Allah kembali mu”.
Surah
Ali Imran (3) : ayat 28
(A)
: bermakna teman akrab, pemimpin, pelindung atau penolong
Allah
melarang hamba-hambanya yang beriman untuk mengangkat orang kafir sebagai wali
dan pemimpin dengan kecintaan kepada mereka dan mengabaikan orang-orang yang
beriman. Barang siapa yang melanggar larangan ini maka terlepaslah dia dari pertolongan
Allah. Kecuali bagi orang yang berada di suatu negeri dan pada waqtu tertentu,
merasa takut terhadap kejahatan orang kafir, maka baginya dibolehkan bersiyasah
kepada mereka secara zahirnya sahaja, bukan secara batin dan niyatnya.
Sebagaimana imam Al Bukhari rh. meriwayatkan dari Abu Darda’ Rhu. ia berkata :
Sesungguhnya kami menampakkan wajah cerah kepada beberapa orang kafir, sedang
hati kami melaknat mereka.
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir rh.
Tafsiir ul Qur’an ul Adziim, Jilid 2, halaman 32-33
Barangsiapa
yang bertauhidkan Allah Swt. dan mentaati pesuruhNya, tidak boleh baginya
berkasih sayang dan terlalu mempercayai dengan orang yang menolak keesaan Allah
dan kerasulan pesuruhNya, walaupun mereka adalah kerabat yang paling aqrab (dekat).
Sesungguhnya Allah Azzawajalla telah memberi pesan di dalam Al Qur’an ul Hamiid
:
“Kamu
tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat,
saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasulNya,
sekalipun orang itu bapa-bapa atau anak-anak atau saudara mara ataupun keluarga
mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya, dan
memasukkan mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka
kekal di dalamnya. Allah rela terhadap mereka dan mereka rela kepada Allah.
Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah bahawa golongan Allah itulah golongan
yang beruntung”.
Surah
Al Mujadalah (58) : ayat 22
Allah Swt.
turut memberikan peringatan tentang perangai kafiriin ini, meski pun diantara
mereka terjadi perselisihan dalam banyak hal, tetapi mereka tetap bersatu dalam
menghadapi musuh yaitu ummat Islam. Inilah yang
diperingatkan dengan keras oleh Al Qur’an, yaitu orang-orang
kafir tolong-menolong antara sesama mereka, sementara orang-orang
Islam tidak mahu tolong-menolong sesama Muslimin sepertimana firman Allah Swt.
di dalam Al Qur’an ul Hassan :
“Adapun
orang-orang kafir, sebahagian mereka menjadi pelindung bagi sebahagian yang
lain. Jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan
Allah itu, (yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu:
keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum Muslimin) nescaya akan
terjadi kekacauan di muka bumi dan kerosakan yang besar.”
Surah Al
Anfaal (8) : ayat 73
Boleh
jadi ramai yang takkan suka dengan apa yang telah saya sebutkan ini. Namun
baiklah disampaikan juga peringatan dari Allah Swt. lantaran banyak orang sudah
terleka atau telah melupakannya. Jelas benar sekarang ini, ramai golongan
mukmin sanggup mengenepikan rakan seagama demi membela rakan kafir mereka
biarpun atas perkara-perkara sangat sensitif dan melukakan hati ummat Islam.
Pemerhatian saya mendapati, perbuatan sebegini diperlakukan kerana adanya
kepentingan-kepentingan tersendiri yang tidak menyangkut pun kepada kepentingan
Islam.
Kerana
itu, saya mahu sampaikan peringatan ini :
"......
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya".
Surah Al Maaidah
(5) : ayat 2
Janganlah
sekali-kali kita berlaku tidak adil sehingga mengenepikan, mencerca, membenci
dan memusuhi saudara seagama dan sebangsa kita demi menegakkan rakan kafiriin
kita atau, menggunakan rakan kafiriin pula untuk membantai saudara Muslim kita
hanya kerana mengharapkan keuntungan sosial, politik dan ekonomi. Lebih dahsyat
lagi, kita pula hakikatnya menjadi alat kafiriin untuk membantai rakan
seagama sendiri waima secara sedar ataupun tidak sedar. Begitu juga, atas dasar
mahu berbaik dalam ukhuwwah dengan kafiriin itu, tidaklah sama sekali
melayakkan kita berperilaku semberono sehingga melepasi batasan dan
peraturan yang telah ditetapkan oleh Islam.
Justeru
itu, Allah Swt. telah memberi peringatan lagi kepada ummat Muslimin supaya
berhati-hati dengan da’yah orang kafir dan tidak mengikuti hawa nafsu mereka
lantaran mereka akan memesongkan kita dari kebenaran.Ini
djelaskan oleh Allah Swt. menerusi firmanNya di dalam Al Qur’an ul Majiid :
“Dan hendaklah
engkau menjalankan hukum di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan oleh
Allah dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka, dan
berjaga-jagalah supaya mereka tidak memesongkanmu dari sesuatu hukum yang telah
diturunkan oleh Allah kepadamu. kemudian jika mereka berpaling (enggan menerima
hukum Allah itu), maka ketahuilah, hanyasanya Allah mahu menyiksa mereka dengan
sebab setengah dari dosa-dosa mereka; dan sesungguhnya kebanyakan dari umat
manusia itu adalah orang-orang yang fasiq.
Sesudah itu,
patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? padahal (kepada
orang-orang yang penuh keyaqinan) tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum
yang lebih daripada Allah".
Surah Al Maaidah
(5) : ayat 49 dan 50
Sesungguhnya
tiada kurang satu apa pun peringatan Allah Swt. tentang orang kafir dan gejala kekafiran
ini. Hanya terpulanglah kepada kita untuk mengambil pelajaran darinya atau
sekadar hanya membaca tanpa sahaja tanpa memberi apa-apa makna. Mudah-mudahan
Allah menguatkan iman dan keyakinan diri kita kepada agamaNya, dan menjadikan
kita ummat yang kukuh keIslaman selama-lamanya, dengan tidak mengikut atau pun
terpedaya dengan da’yah kaum kafirin. Setakat ini yang dapat saya nukilkan.
والله تعالى أعلم
Yang benar itu datang dari Allah Swt. dan
Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari saya yang amat dhaif ini.
سكيان , والسلام
eddzahir@38
Tanah Liat, Bukit Mertajam
Langgan:
Catatan (Atom)



