Khamis, 3 Oktober 2013

Bicara Ilmu : Jangan Berhukum Sebarangan

0 ulasan
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
وبعد, يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي رب إشرح لي صدري و

Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta sekelian alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikut mereka dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma ba'du.

Terlebih dahulu saya mengucapkan selamat menjalani rutin kehidupan sehari-hari kepada semua rakan jamaah serta para pembaca. Saya mendoakan agar sentiasa Allah Swt. membimbing dan melindungi diri kita dari segala macam keburukan dan kejahatan, seterusnya memelihara diri kita supaya tetap berpegang teguh kepadaNya dan menerima semua amalan kita. InsyaAllah. Saya berlindung diri dengan Allah Tabaraka Wataala dari sebarang kesilapan dan kekhilafan, serta memohon pimpinanNya sentiasa dalam menghasilkan artikel ini.

“Dari Abu Hurairah Rhu. ia berkata bahawasanya Nabi Saw. bersabda : Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada mukmin yang lemah ; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata : Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah : Ini telah ditaqdirkan Allah, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Kerana ucapan “seandainya” akan membuka (pintu) perbuatan syaitan”.
Hadis sahih riwayat imam Muslim rh. (no. 2664) imam Ahmad rh. (Jilid 2 no. 366 dan 370) dan imam Ibnu Majah rh. (no. 79 dan 4168)

Lantaran itu, kepada semua rakan mukminin, berkata dan beramalallah dengan ilmu. Bukan hanya dengan sesedap rasa dan ikut-ikutan sahaja. Tambah lagi dalam memberikan panduan dan hukuman, tiada lain mesti ia pasti dan tepat berdasarkan Al Qur’an dan as Sunnah. Fatwa dan hukum tidak wujud berdasarkan agakkan dan sangka-sangkaan. Sesungguhnya agakkan dan sangka-sangkaan membuka pintu kebatilan dan ia adalah perbuatan syaitan. Disertakan terjemahan artikel berdasarkan ucapan Syeikh Prof. Dr. Salih bin Sa’d As Suhaimi, Pensyarah Kanan, Universiti Islam Madinah Al Munawwarah, untuk manfaat ilmiyah bersama. Dipohon maaf atas terjemahan yang serba kekurangan.

Jangan Berfatwa dan Berhukum Sebarangan
Oleh : Syeikh Dr. Salih bin Sa’d As Suhaimi Al Harbi
Guru di Masjid Nabawi dan Universiti Islam Madinah Al Munawwarah

Dalam satu pertemuan bebas, pada hari Khamis malam 12 Rajab 1428 H/26 Julai 2007 M, pada Daurah Syar’iyah VII di Lawang, Malang, Jawa Timur, yang diselenggarakan Ma’ahad Ali Al Irsyad as Salafi, Surabaya, Syeikh Prof. Dr. Salih As Suhaimi sebelum membuka pertanyaan bebas, memulakan majlis dengan menyampaikan beberapa patah kata tentang fatwa dan hukum sebarangan. Bahan nukilan ini ditranskrip dan diterjemahkan dengan bahasa secara bebas serta terdapat beberapa hal yang diringkas oleh Al Fadhil Ustaz Ahmad Faiz Asifuddin Lc. Semoga memberi manfaat.

بسـم الله الرحمـن الرحيـم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه و نستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا ، من يهد الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، صلى الله وسلم و بارك عليه و على آله وأصحابه أجمعين.

Pembicaraan hari ini mengenai persoalan yang amat penting, yaitu tentang fatwa dan hukum. Betapa pentingnya engkau memahami tentang fatwa. Mengapa? Sebab sebahagian orang begitu mudah dalam berfatwa. Tidaklah kurang menyesatkan banyak orang, termasuk para tukang fatwa yang berfatwa dengan tidak berdasarkan ilmu. Sehinggakan mereka sesat dan menyesatkan pula orang. Di antara peringatan supaya tidak sebarangan dalam berfatwa dan berhukum juga tidak berkata atas nama Allah Swt. tanpa dasar ilmu, ialah firman Allah Swt. sendiri :

"Katakanlah : Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak mahu pun yang tersembunyi, juga mengharamkan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (juga mengharamkan) jika kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) jika kamu mengada-adakan perkataan atas nama Allah apa yang kamu tidak mengetahui".
Surah Al A’raaf (7) : ayat 33

Juga firman-Nya :

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran (telinga), penglihatan (mata) dan hati (perasaan), semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (di akhirat nanti)".
Surah Al Isra`(17) : ayat 36
Dan firmanNya lagi :

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah & katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah & Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar".
Surah Al Ahzab (33) : ayat 70-71

Sementara itu, sesungguhnya Allah Swt. sangat mencela fatwa dan hukum yang didasari sangkaan-sangkaan. Dan fatwa tanpa ilmu termasuk sangkaan dusta. Dalam hal ini, Allah Swt. telah berfirman :

"Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka". Surah An Najm (53) : ayat 23

"Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah".
Surah Sad (38) : ayat 26

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan)nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (itu)".
Surah Al Jatsiyah (45) : ayat 23

Sesungguhnya ada sebahagian orang jahil yang memaksakan diri menempuh jalur fatwa tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa dasar Kitabullah dan As Sunnah Rasul-Nya yang terang. Akibatnya para tukang fatwa itu menjadi salah satu di antara dua golongan: golongan yang berlebihan (ifrath-ekstrim) dan golongan yang memudah-mudahkan urusan (tafrith-remeh).

Maka (dari golongan yang memudah-mudahkan urusan) ada yang berfatwa menghalalkan beberapa perkara yg diharamkan dan bertoleransi membuang beberapa prinsip dasar dalam Islam dengan dalih menyenangkan hati orang-orang Yahudi dan Nasrani. (Padahal) Allah Swt. telah berfirman :

"Dan sekali-kali tidak akan redha orang-orang Yahudi & Nasrani kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka".
Surah Al Baqarah (2) : ayat 120

Ada sebahagian ahli ruang angkasa luar dan sebahagian orang yang mengaku berilmu di sebahagian saluran television, mereka menfatwakan halalnya riba. Sebahagian di antara mereka ada yang menfatwakan halalnya nyanyian. Sebahagian di antara mereka ada yang menfatwakan halalnya musik. Sebahagian lagi ada yang menghalalkan gambar makhluk hidup untuk keperluan yang bukan darurat. Ada sebahagian lain yang membolehkan pergaulan campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa ada pembatas apa pun.

Kemudian ada pula yang memudahan-mudahkan fatwa tentang bolehnya wajah wanita terbuka. Dalam hal (wajah wanita) ini, dengan penuh rasa hormat kami kepada para imam terdahulu kami yang berpandangan bolehnya wajah wanita terbuka, kami tetap berpandangan bahawa yang benar adalah wajibnya hijab (kain yang menutupi hingga wajah, termasuk mata) bagi wanita, bukan sekedar niqab (tutup wajah yang memperlihatkan mata saja).

Ada lagi di antara mereka yang memudah-mudahkan untuk larut dengan orang-orang kafir serta duduk-duduk bersama mereka dalam jamuan-jamuan yang berisi kekufuran, pesta-pestaan, music dan nyanyian dan minuman keras untuk tujuan persahabatan.

Selanjutnya di antara mereka ada yang memudah-mudahkan untuk berfatwa bolehnya berjabat tangan dengan wanita. Bahkan sebahagian mereka sekarang ada yang beranggapan bahawa tidak mungkin suatu majlis akan bermanfaat kecuali jika di dalamnya ada laki-laki dan wanita. Sebagaimana anggapan 'Amr Khalid dan kawan-kawannya dalam sebuah kelompok “Pencipta Kehidupan”.

Namun siapakah sesungguhnya pencipta kehidupan? Tentu Allah Swt. Dialah Pencipta kematian dan kehidupan. Maka barang siapa yang mengaku dapat mencipta kehidupan selain Allah, juga menghukum sesuatu yang bukan dari Allah, berarti dia telah mempersekutukan Allah. Inilah beberapa contoh di antara banyak hal yang terjadi di lapangan tentang fatwa-fatwa dari orang-orang yang memudah-mudahkan urusan. Orang-orang yang lancang dalam menghalalkan perkara-perkara haram.

Golongan kedua, ialah golongan kaum ekstrim (berlebih-lebihan). Yaitu orang-orang yang menfatwakan bolehnya membunuh kaum Muslimin atas nama jihad. Padahal jihad berlepas diri dari mereka. (Syeikh Salih As-Suhaimi selanjutnya memberikan contoh pembunuhan terhadap Syeikh Jamilur Rahman rahimahullah puluhan tahun lalu. Dibunuh oleh seorang anggota kelompok pejuang Islam dari Arab atas nama jihad. Agar konspirasi dan pengarah pembunuhan tidak terungkap, maka si pembunuh pun dibunuh).

Demikianlah, kadang-kadang fatwa untuk membunuh, kadang-kadang fatwa untuk mencuri, untuk merompak, untuk merampas, untuk melakukan kekafiran dan malah berbagai lagi.

Di antara contoh fatwa kaum ekstrim ini, ialah fatwa-fatwa yang dikirim dari sebahagian orang yang menganggap dirinya berilmu dan melebihi dari orang lain, dimana sebahagian di antaranya ternyata adalah para penyembah kuburan. Fatwa-fatwa ini dikirim ke beberapa pemuda kita yang tertipu, tentang bolehnya melakukan peledakan, pembunuhan, kekacauan dan bolehnya melakukan kerosakan di dalam negeri kaum Muslimin. Mereka beranggapan bahawa ini adalah jalan menuju syurga.

Mereka memberikan fatwa ini sebagaimana para pastur gereja memberikan doktrin kepada kaum Nasrani tentang penghapusan dosa. Mereka mengatakan bahwa tidak ada jalan lain bagi kalian untuk masuk syurga kecuali dengan membunuh seorang polis / membunuh seorang pengawal keamanan, bahkan mungkin membunuh siapa saja yang menentang kalian. Sebab mereka berpandangan kafirnya masyarakat secara umum.

Bertahun-tahun mereka memiliki kemampuan untuk dapat melaksanakan beberapa rencana mereka. Bahkan dari tindakan mereka membuahkan hasil berupa peluang bagi orang-orang kafir untuk lebih berleluasa melakukan pendudukan dan tekanan ke atas sebahagian negeri Islam, melalui celah yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij ini, yang oleh sebahagian orang diringankan sebutannya, yaitu mereka hanya disebut kaum teroris. Padahal sebutan yang paling tepat bagi mereka itu ialah kaum Khawarij.

Mereka menfatwakan bolehnya membunuh orang-orang tak bersenjata, merampas harta-harta milik dan berbuat bengis kepada anak-anak, wanita, orang-orang tua dan orang-orang lemah. Mereka memiliki jaringan-jaringan komunikasi dan laman-laman internet yang mendokong. Mereka ini lebih berbahaya dari golongan pertama. Mengapa? Bukankah kemaksiatan juga merupakan penghubung menuju kekafiran? Terutama bagi orang yang begitu mudah melakukan sebahagian perkara haram? Bagaimana mungkin golongan kedua ini dikatakan lebih berbahaya dari golongan pertama? Maksudnya, mengapa golongan ekstrim ini lebih berbahaya dari golongan yang memudah-mudahkan urusan kemaksiatan?

Ya, sebab (golongan pertama) yang menfatwakan bolehnya melakukan perkara-perkara haram, memberikan fatwa hanya kerana syahwat (hawa nafsu) saja. Sedangkan (golongan kedua) yang menfatwakan halalnya darah kaum Muslimin saudara sendiri, memberikan fatwa kerana alasan agama, kononnya atas perintah Allah Swt. dan rasul-Nya. Inilah letak bahayanya yang paling utama.

Sebab pembawaan kaum Muslimin, meskipun mereka menjadi pelaku kemaksiatan, namun tetap saja mereka membenci golongan pertama (yang memudah-mudahkan dalam membolehkan beberapa perkara haram). Sebagai misal, andaikata ada seseorang di antara mereka melakukan kemaksiatan, apakah dia rela jika kemaksiatan ini dilakukan anaknya? Tentu sekali tidak. Bahkan andai kata dia melakukan kemaksiatan yang dipandang ringan oleh sebahagian orang, seperti merokok misalnya, engkau boleh mendapati dia akan memukul anaknya jika melihat anaknya merokok, padahal dia sendiri pun pecandu rokok.

Andaikata ia melakukan zina -kita memohon agar Allah senantiasa melindungi kita semua dari perbuatan zina- tentu engkau mendapatinya akan selalu berusaha agar anak-anaknya terhindar dari zina tersebut. Oleh sebab dia melakukan perzinaan itu tidak dengan keyakinan terhadap apa yang ia lakukan, bahkan ia tetap beranggapan bahawa ia telah melakukan dosa besar dan berharap boleh lepas dari perbuatannya. Bukankah demikian?

Akan tetapi, orang-orang yang menfatwakan bolehnya membunuh orang-orang Islam, seagama dan bersaudara, berpandangan bahawa membunuh ini merupakan tuntutan agama. Di sinilah letak bahayanya yang amat dahsyat. Dan inilah bid’ah paling mungkar di zaman ini.

Oleh kerana itu, Imam Malik rh. telah mengatakan : Barang siapa mengada-adakan bid’ah dalam agama dan ia memandangnya hasanah (baik), maka sesungguhnya ia telah beranggapan bahwa Nabi Muhammad Saw. telah berkhianat (tidak menyampaikan Islam dengan lengkap) terhadap risalah. Sebab Allah Swt. telah berfirman :

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untu kamu agamamu dan telah Ku-sempurnakan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku redhai Islam itu jadi agamamu".
Surah Al Maaidah (5) : sebahagian ayat 3

Lantaran itu, apa saja yang pada hari itu (wuquf di Arafah) bukan agama, maka pada hari ini pun tetap jua bukan ia agama. Kerana alasan inilah, engkau mendapati para Salafus Solih sangat keras sikapnya kepada para ahli bid’ah, terutama Khawarij, lebih keras dari sikap mereka kepada para pelaku maksiat.

Tentu sekali tidak diragukan bahawa kemaksiatan amat berbahaya. Kemaksiatan adalah penghubung menuju kekafiran. Akan tetapi bagaimanapun, kemaksiatan-kemaksiatan ini masih lebih ringan daripada bid’ah. Itulah sebabnya, Imam Sufyan Ats-Tsauri rh. telah mengatakan : Sesungguhnya bid’ah lebih disukai oleh iblis dan syaitan daripada maksiat, kerana orang akan mudah bertaubat dari maksiat. Sedangkan bid’ah, orang tidak akan bertaubat daripadanya. Mana mungkin boleh mereka pelaku bid’ah bertaubat dari bid’ah, lantaran mereka menanggapi itulah agama yang benar malah lebih baik diperbuat, mereka rasa amat bersalah atau terkurang pula membuat amal agama jika tidak melakukannya. Na’uzubillahu min zaalik.

Sesungguhnya, Beliau & para ulama Salafus Solih lainnya berdalil dengan sabda Nabi Saw. :

إِنَّ اللهَ احْتَجَرَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ
Sesungguhnya Allah menghalangi setiap ahli bid’ah dari taubat, sampai ia meninggalkan bid’ahnya.

Maka kita wajib memperhatikan masalah ini. Masalah ifrath (sikap berlebih-lebihan/ekstrim) sangat berbahaya. Sebab, orang-orang yang berlebih-lebihan (ekstrim), ketika melakukan tindakan-tindakan mereka, didasarkan kepada keyakinan bahawa tindakan-tindakan itu merupakan tuntunan agama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga mereka dapat mengelabui banyak orang. Dari sinilah Rasulullah Saw. bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَيَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَ أَضَلُّوْا. متفق عليه
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari dada-dada manusia sekaligus. Akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan dimatikannya para ulama. Sehingga manakala Allah tidak menyisakan seorang 'alim pun, maka orang-orang akan mengangkat tokoh-tokoh yang bodoh. Tokoh-tokoh ini pasti akan ditanya, maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu hingga mereka sesat & menyesatkan".

Baginda Rasulullah Saw. juga bersabda dalam hadits Tsauban:

إِنَّمَا أَخْشَى عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ (البرقاني)
"Sesungguhnya aku hanyalah mengkhuatirkan bagi umatku, adanya para imam yang menyesatkan".

Para sahabat Rodhiyallahu 'anhum dahulu, kadang berselisih pendapat dalam suatu masalah. Masing-masing mempunyai arah pandang tersendiri dalam masalah-masalah furu’ (cabang). Ketika ada seseorang datang kepada mereka untuk meminta fatwa, maka masing-masing sahabat tidak mahu langsung memberikan jawaban. Alasannya ada dua :

Pertama : Kerana masing-masing sahabat menghormati sahabat lainnya. Masing-masing lebih mengutamakan sahabat lain untuk menjawab, dan masing-masing berpandangan bahawa sahabat lain lebih layak untuk berfatwa.

Kedua : Kerana masing-masing sahabat bersikap wara’ (hati-hati) dalam berfatwa dan berhukum, lalu memilih untuk tidak tenggelam dalam fatwa.

Ini semua, jika berkaitan dengan masalah furu’. Namun apabila masalahnya menyangkut aqidah, maka mereka tidak pernah tinggal diam selama-lamanya. Mereka tidak mungkin diam sama sekali jika masalahnya sampai menyangkut 'aqidah / menyangkut nas Sunnah, / jika masalahnya sampai pada persoalan bid’ah. Kerana itulah, ketika Abu Bakar As-Siddiq Rhu. ditanya tentang makna perkataan Abban pada firman Allah Swt. (Surah Abasa (80) : ayat 31) :

وفكهة وأبا
Abu Bakar menjawab : “Bumi mana yang dapat kujadikan tempat berpijak, dan langit mana yang dapat menaungiku, apabila aku berkata tentang Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala apa yang aku tidak mengetahuinya”.

Itulah Abu Bakar, padahal siapakah beliau? Namun beliau berkata sesuatu yang pasti benar.

Inilah beberapa patah kata pembukaan yang berkaitan dengan sifat dua kelompok, yaitu : kelompok ekstrim dan kelompok yang memudah-mudahkan urusan Allah Swt. dan rasul-Nya.

Akhir sekali, Saya berharap agar engkau betul-betul memahami dan menyedarinya. Berkata, berfatwa dan berhukumlah dengan ilmu. Ittiba’lah (ikutlah) juga dengan ilmu. Bukan yang berhukum hanya sebarangan dan yang mengikut juga jauh lebih sebarangan. Hanya Allah-lah Dzat Pemberi Petunjuk menuju ke jalan lurus. Solawat, salam & barokah Allah Swt., hendaknya senantiasa tercurah pada junjungan mulia Nabi kita Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya. Mudah-mudahan Allah Swt. senantiasa mencucuri rahmah, petunjuk dan keampunanNya kepada kita semua.

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun 12I/1429H-2008M. Penerbit : Yayasan Lajnah Istiqomah, Surakarta. Laman web : almanhaj. or. id

Akhirul Kalaam : Sesungguhnya Allah Swt. mengangkat darjat seorang manusia dengan ilmu dan terpelihara dirinya dari kebatilan disebabkan oleh ilmu. Ilmulah yang membawa manusia kepada kebenaran dan kecemerlangan. Bahana kehancuran ummat Muslimin hari ini berpunca daripada kealpaan dan sikap mengambil mudah terhadap ilmu. Tradisi mengagungkan ilmu telah bertukar menjadi budaya pak turut secara taqlid buta sahaja begitu membesar dan berakar umbi dalam masyarakat Islam. Lantaran itulah, ummat Muslimin yang suatu masa dulu amat agung dan terkemuka malah menjadi pusat rujukan segala ilmu, kini jauh ketinggalan dan mundur berbanding ummat yang lain.

Tidak hairan, segala bentuk ilmu yang berasal dari ummat Islam sendiri, kini dikuasai oleh orang lain dan ummat Muslim pula yang menuntut dari mereka. Ini amat terbalik dengan suasana rautusan tahun dahulu dimana, ummat Islamlah yang menjadi rujukan seluruh dunia dan senantiasa berada di puncak kecemerlangan. Suka atau tidak, akuilah hakikatnya bahawa hampir keseluruhan asas ilmu datangnya dari sumber Islam ya’ni Al Qur’an dan As Sunnah Nabi Saw. dan hampir semua pemuka dan sarjana ilmu datangnya dari ummat Islam seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Jabar dan lain-lain.

Begitulah hakikatnya, kita ummat Muslimin tidak lagi terkedepan lantaran kurang menguasai ilmu, dan tanpa ilmu dan ketaqwaan kepada Allah, manusia akan jadikan dunia ini hanyalah satu laknat bukannya nikmat.

Dalam satu sabdanya, Baginda Saw. menjelaskan bahawa dunia ini hanyalah laknat kecuali kepada orang yang berilmu atau mempelajari ilmu :

“Dari Abu Hurairah Rhu. ia berkata bahawasanya Nabi Saw. bersabda : Ketahuilah, bahawa dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada didalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan ketaatan kepadaNya, orang berilmu atau orang yang mempelajari ilmu”.
Hadis riwayat imam Ibnu Majah rh. (no. 4112) imam Ibnu Abdil Barr rh. (Jilid 1, no. 135) dan imam Tarmidzi rh. (no. 2322) dan beliau menyatakan ia hadis hasan.

Demikianlah ketinggian martabat dan keutamaan ilmu, yang dengannya manusia dapat melakukan ibadah sebenar-benarnya selaras dengan yang dituntut oleh Allah Swt. dan rasulNya. Dalam satu sabdaan lagi, Baginda Saw. mengatakan dengan jelas tentang keutamaan berilmu berbanding melakukan ibadah tanpa ilmu :

“Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Rhu. ia berkata bahawasanya Nabi Saw. bersabda : Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik adalah al wara’ (berhati-hati dalam melakukan ibadah, menjurus kepada ketaqwaan)”.
Hadis hasan riwayat imam Thabrani rh. (no. 3972) dan imam Ibnu Abdil Barr rh. (Jilid 1 no. 96) dan imam Al Bazaar rh. dalam Sahiih At Targhiib Wa Tarhiib (no. 68)

Tuntutlah ilmu dan berilmulah, sebelum berkata-kata, beramal, berfatwa dan berhukum.

والله اعلم

Yang benar itu datang dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari saya yang amat dhaif ini.

سكيان
والسلام


Read more...

Khamis, 1 Ogos 2013

Soal Jawab Puasa (siri 8)

0 ulasan
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
وبعديسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي رب إشرح لي صدري و
 
Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta sekelian alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikut mereka dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma ba'du.
 
Saya mendoakan agar Allah Swt. sentiasa menerima semua amalan kita seterusnya melimpahkan segala rahmat dan keampunanNya di hari dan bulan yang mulia ini, InsyaAllah. Saya memohon perlindungan, rahmat dan bimbingan dari Allah Swt. dari sebarang kesilapan dalam menuliskan nukilan ini.
 
Bersama ini saya sertakan artikel jawaban dan penjelasan terhadap beberapa persoalan umum berkenaan puasa. Ia adalah nukilan sahabat, Syeikh Ustaz Dr. Zaharuddin bin Abdul Rahman, yang mencakupi banyak persoalan yang paling biasa di tanya di dalam masyarakat. Mudah-mudahan kita mendapat pedoman, panduan dan manfaat ilmiyah darinya. InsyaAllah,
 
Ramadhan : Batalkah Puasa Kita Jika ......
 
Ulama terbilang dunia ketika ini, Syaikh Prof. Dr Yusuf bin Abdullah Al Qaradhawi pernah menyebut dan meluah rasa kurang setuju beliau dengan tindakan para ulama yang terlalu meluaskan perbuatan yang membatalkan puasa. Beliau lebih setuju untuk mengecilkan skop dan ruang lingkup pembatalan puasa kepada perbuatan yang benar-benar terdapat dalil tepat dari Al Quran, Al Hadis sahihah dan kesepakatan para ulama muktaabar sahaja.
 
Beliau berpendapat, perbincangan panjang lebar oleh ulama silam, antaranya para ulama dari mazhab Hanafi dan ulama mazhab-mazhab lain menyebut sekitar 57 bentuk perbuatan yang membatalkan puasa adalah adalah tindakan yang kurang sesuai. Malah, ia juga amat digemari diperbahaskan oleh ulama masa kini sehingga terdapat yang menghabiskan masa begitu lama untuk merangka fatwa, berijtihad dan meletakkan kaedah begitu begini bagi sesuatu perbuatan. Adakalanya, ia adalah isu yang tidak pun memerlukan perhatian begitu mendalam malah menjurus pula kepada kerumitan kepada masyarakat.
 
Masalah ini dilihat semakin bertambah, apabila segala macam ijtihad dalam bab ini semakin bercambah hingga menyebabkan kesukaran orang kebanyakkan (awam) menjalankan ibadah ini dengan tenang kerana perincian perbuatan yang membatalkan puasa amat cabang (furu'),  terlampau banyak, memeningkan dan menyukarkan. Ia menyebabkan orang awam yang terhad kemampuan, masa dan rujukan sering berada dalam kebimbangan serta serba salah dengan isu batal dan tidak batal puasa ini.
 
Lebih dikesali adalah, perbincangan tentang ini juga amat berjela-jela dan lebih bertumpu kepada penafsiran sendiri sehingga ada yang meninggalkan perbincangan dan perbicaraan yang lebih besar berkenaan Ramadhan.
Kitab Taysir Al Fiqh - Fiqh As-Siyam, halaman 86-87.
 
Sebagai contoh, antara isu terbesar yang patut diberikan fokus mendalam di waktu Ramadhan adalah :-
 
1) Raih Taqwa & Mendapatkan Keampunan : Sangat jelas arahan Allah Swt. dan RasulNya menegaskan keperluan kita berusaha meraih taqwa dan keampunan di dalam bulan ini. Perbincangan berkenaan kaedah, cara dan cabaran yang boleh menghalang kita mencapai target ini perlu diberikan perhatian lebih. Yang benarnya adalah merujuk kepada amalan para anbiya’ dan salafus solih sebagai ikutan dan mengelakkan amalan yang direkacipta.
 
2) Bulan Ingatan Keatas Fungsi Al Qur’an : Firman Allah yang menyebut bahawa Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan ini sebagai petunjuk, dan bukti kebenaran petunjuk dan pembeza di antara haq dan yang batil. Justeru perbincangan berkenaan kemestian umat Islam kembali kepada Al Quran sebagai satu-satunya formula untuk berjaya sebagai golongan bertaqwa dan selamat dunia akhirat perlu diperhebat. Justeru itu, mesti diperhebatkan tadabbur ya’ni baca, faham dan amal kandungan ayatullah itu, bukan sahaja sekadar dibaca.
 
3) Amaran Terhadap Amalan Pengikis Pahala Ramadhan Yang 'Confirmed' : Sabda-sabda Nabi Saw. berkenaan tindakan yang boleh menghapuskan pahala puasa Ramadhan seperti bercakap kotor, nista, carut dan perbuatan jahat dan keji di waktu bulan ini. Ia perlu dipertekankan kerana ia adalah perkara yang disepakati bakal merosakkan pahala puasa seseorang walaupun ia tidak sampai membatalkan zahir puasanya.
 
4) Kaedah Penambah Pahala & Redha Allah Swt. di Bulan Ramadhan Yang 'Confirmed' : Sabda-sabda Nabi Saw. yang mengandungi janji-janji dan tawaran Allah Swt. di bulan ini juga perlu diperluas kepada orang ramai agar semakin ramai yang berpotensi ke Syurga Allah sekaligus melemahkan fungsi Syaitan dan nafsu amarah yang sentiasa ingin mengajak kepada kemaksiatan.
 
Adapun isu perkara yang membatalkan puasa, sewajarnya ditumpukan kepada hukum yang disepakati sahaja.  Justeru itu, larangan yang disepakati tatkala puasa adalah menahan nafsu syahwat, menanggung lapar dan dahaga serta menahan diri dari bersetubuh dengan isteri di siang hari dengan niat ikhlas ibadat kerana Allah. Inilah yang dijelaskan dari Al Qur’an dan As Sunnah. Demikian juga menjauhi kata-kata nista, bohong, mengumpat, cercaan dan lain-lain dosa anggota demi kerana Allah. Ia disebut di dalam ayat Al Baqarah (2) : 187 dan disokong oleh hadis-hadis yang banyak.
 
Merokok, keluar darah haid atau nifas dan hilang aqal adalah dipersetujui secara sepakat oleh para fuqaha’ dan ulama’ sebagai : amalan yang membatalkan puasa.
 
Adapun hal yang tidak disepakati dan diperselisihi, ia boleh dibincangkan cuma jangan sampai ia mengambil perhatian utama kita apabila berada di dalam Ramadhan. Sebagai panduan, berikut disertakan beberapa hukum secara ringkas berkaitan puasa yang kerap ditanya oleh orang ramai :-
 
1)    Darah keluar dari tubuh ; samada untuk berbekam, ambil darah pesakit, menderma darah, tercedera, darah dari hidung, tangan dan lain-lain.
 
Hukumnya : Tidak batal puasa kerana yang membatalkan adalah yang masuk ke tubuh melalui saluran terbuka hingga ke perut dan bukannya ‘yang keluar' dari tubuh. (As Siyam Muhdathatuhu wa hawadithuhu, Dr. Muhammad ‘Uqlah, halaman 215). Manakala pandangan pembatalan puasa dengan berbekam yang berdalil hadis riwayat imam Abu Daud rh. dan imam Ibn Majah rh. dengan sanad sohih menurut Imam An Nawawi rh., ia telah dipinda (nasakh) dengan hadith dari Ibn Abbas Rhu. yang menyebut bahawa Nabi Saw. ada berbekam dalam keadaan baginda berpuasa. (Riwayat imam Bukari rh., Jilid 3 no. 43) kerana hadis dari Ibn Abbas Rhu. ini berlaku tatkala Haji Wida' dan terkemudian dari hadis yang menyebut batal kerana bekam. (Tasysir Al Fiqh, SyeikhYusuf Al Qaradhawi, halaman 90). Malah ini juga padangan majority mazhab kecuali mazhab Hanbali. (kitab Bidayatul Mujtahid, Jilid 1 halaman 247)
 
2)    Memasukkan sesuatu ke dalam rongga terbuka dan dikeluarkan kembali tanpa sampai ke perut dan yang seumpamanya di bahagian kepala. Ia seperti memasukkan alat tertentu ke dalam kemaluan wanita atau dubur ketika proses perubatan yang berkaitan, demikian juga memasukkan jari ke dalam hidung, telinga, mulut dan dubur.
 
Hukumnya : Tidak membatalkan puasa kecuali jika alatan itu dibiar tinggal di dalam kemaluan tadi, kerana illah @ faktor penyebab batal puasa adalah masuknya sesuatu berfizikal ke perut. Terkecuali juga, wanita atau lelaki yang memasukkan jarinya ke dubur atau kemaluannya dengan tujuan nafsu, maka ia membatalkan puasa, tetapi jika tujuan istinja' atau membasuhnya maka hukum yang lebih kuat menurut para ulama adalah tidak batal. (As Siyam Muhdathatuhu wa hawadithuhu, Dr. Muhammad ‘Uqlah, halaman 211). Ini juga dipersetujui oleh Syeikh Atiyyah Saqar rh. yang mengatakan : masuk sesuatu ke telinga dan hidung yang tidak sampai ke perut atau bahagian otak adalah tidak membatalkan puasa. (Kitab Min Ahsanil Kalam fil Fatawa). Tidak dinafikan juga, terdapat fatwa yang mengatakan batal, justeru, nasihat saya adalah lebih baik menjauhinya kiranya tiada tujuan yang agak mendesak. Kerana menjauhi yang khilaf (perbezaan pendapat) itu lebih baik.
 
3)    Pil elak haid untuk puasa penuh :
 
Hukumnya : Harus dengan syarat tidak membawa mudharat kepada pusingan haidnya, dan memerlukan nasihat doktor Islam yang berwibawa. Namun yang terbaik adalah tidak menyekat haid, dan tidak menganggu kitaran fitrah yang telah ditentukan oleh Allah Swt. selain itu wanita sedang haid juga masih boleh melaksanakan pelbagai jenis ibadah. 
 
4)    Penyembur gas untuk pesakit lelah :
 
Hukumnya : Baru-baru ini pada bulan Julai 2007, Persidangan Majlis Fiqh Antarabangsa di Putrajaya ada membincangkan isu ini. Isu ini amat kerap dibincangkan oleh para ulama seantero dunia dan mereka berbeza pandangan apabila sebahagian menyatakannya batal dan sebahagian lain menolak.
 
Menurut kajian terperinci bantuan para doktor, mendapati gas semburan itu punyai jisim-jisim putih yang jelas kelihatan jika di sembur di atas kertas. Selain itu, hampir 90 % darinya akan terus masuk ke tekak dan melekat di esophagus dan terus ke perut. Ini bermakna ianya jisim-jisim gas itu masuk ke perut setiap kali semburan. Justeru sudah pasti ia membatalkan puasa. Demikian pandangan awal dari Majlis Fiqh Antarabangsa yang bersidang Julai 2007 baru-baru ini, tetapi kemudiannya mereka menarik balik keputusan mereka untuk dibincangkan lebih terperinci dalam persidangan akan datang.
 
Namun begitu, adalah pandangan sebahagian ulama kontemporari yang menyakini masuknya serbuk jisim gas ke dalam perut. Bagaimanapun para ulama masih perlu bergantung kepada makumat jelas dari para doktor bagi memberikan fatwa tepat. Sebahagian ulama seperti Syeikh At-Tantawi, Syeikh Dr. Muhammad ‘Uqlah, menyebut hukumnya tidak batal kerana gas itu hanya terhenti di paru-paru dan tidak masuk ke perut. Manakala, ubat lelah jenis hidu melalui hidung adalah membatalkan puasa kerana ia akan masuk ke bahagian kepala. (As Siyam Muhdathatuhu wa hawadithuhu, Dr. Muhammad ‘Uqlah, halaman 226).
 
Namun jelas sekali, para ulama amat berhati-hati dalam memberikan keputusan dalam hal ini kerana menyedari, walaupun serbuk-serbuk dari inhaler tersebut boleh memasuki ruang perut, namun ia adalah satu keperluan mendesak buat pesakit athma (lelah/penat) dan tidak pula dilaksanakan secara saja-saja, bukan pula kerana nafsu lapar.
 
Pandangan yang  terpilih adalah TIDAK BATAL, kerana terdapat perbezaan informasi dan data oleh para doktor pakar perubatan berkenaan ketepatan fakta masuknya jisim ke dalam perut pada setiap kali semburan dibuat. Justeru itu, hukum puasa adalah kekal di atas sifat asalnya iaitu sah selagi belum terdapat bukti nyata dan diyakini terbatalnya ia. Sebagaimana kaedah Fiqh "
 
والأصل بقاء الشيء على ما هو عليه
Ertinya : Hukum asalnya, kekalnya hukum sesuatu pada sifat sebelumnya.
 
Justeru, jika ada sekalipun jisim yang termasuk ke dalam perut, ia bukanlah makanan yang mengenyangkan dan bukan pula dilakukan secara suka-suka serta ia tergolong dalam ubat-ubatan yang diperlukan secara mendesak. Selain itu, jisim yang termasuk ke dalam perut pula adalah tergolong di dalam kategori DIMAAFKAN sebagaimana beberapa kadar air yang tertinggal di atas lidah dan dalam hidung semasa berkumur dan berwudhu. Wallahu'alam.
 
5)    Suntikan ke dalam tubuh melalui tangan, kaki selain rongga terbuka yang asal :
 
Hukumnya : Terdapat dua jenis : samada untuk berubat atau untuk menguatkan. Jika ia digunakan untuk mengurangkan demam, bius, 'pain killer' dan apa jua tujuan asas perubatan, ia disepakati tidak membatalkan puasa (Syeikh Al Qaradawi, Fiqh As Siyam, halaman 100 ; Dr. Muhammad ‘Uqlah, As Siyam Muhdathatuhu wa hawadithuhu, halaman 226). Demikian juga hukumnya suntikan kalsium dan sebagainya untuk kekuatan badan demi perubatan.
 
Berkenaan suntikan makanan, air seperti glukos dan sepertinya untuk tujuan perubatan; para ulama sekali lagi berbeza pandangan : Pandangan majoriti adalah : Tidak membatalkan puasa kerana ia tidak masuk ke dalam tubuh melalui rongga terbuka dan ia tidak mengenyangkan serta tidak bercanggah dengan hikmah puasa. Ia adalah fatwa oleh Syeikh Dr Yusof Al Qaradhawi, Syeikh Muhammad Bakhit, Syeikh Abdur Rahman Taj, Syeikh Ahmad Asy Syurbashi, Keputusan Lajnah Fatwa Azhar tahun 1948 (Taysir Al Fiqh As-Siyam, halaman  100; Fatawa Syar'iyyah, halaman 268 ; Yasalunaka, jilid 5 halaman 53 dll.).
 
Bagaimanapun, suntikan jenis makanan ini membatalkan puasa terutama jika dilakukan secara sengaja untuk melarikan diri dari ujian keletihan lapar dahaga puasa.
 
6)    Berkumur-kumur dan air masuk ke rongga hidung semasa wudhu’.
 
Hukumnya : Tidak membatalkan puasa, cuma jika berlebihan berkumur menurut ulama Syafie mengatakannya terbatal. Justeru itu, jauhilah berlebihan berkumur di ketika berpuasa adalah lebih baik. Ketetapan ini berdasarkan hadis :
 
 "Sempurnakanlah wudhu’, basuhlah celah-celah jari jemarimu, dan lebih-lebihkan menyedut air ke hidungmu kecuali tatkala kamu berpuasa.”
Riwayat imam Abu Daud, no. 142 ; imam Tarmidzi, no. 788 ; imam Al Hakim, Sohih menurut Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban & Al-Hakim dan dipersetujui oleh Az-Zahabi ; Ta’liq dari Syeikh Al Albani juga menyatakan Sohih.
 
7)    Melakukan Maksiat seperti tidak solat 
 
Hukumnya : Tidak batal puasa menurut majoriti mazhab dan ulama. Akan tetapi dosa maksiat itu akan ditanggung berasingan mengikut jenis maksiat, malah mungkin bertambah besar dosanya kerana mencarik kehormatan Ramadhan. Pahala puasanya pula akan terhapus. Selain itu, ia juga mencarikkan keseluruhan tujuan berpuasa iaitu bagi melahirkan insan taqwa, beroleh keampunan dan jauh dari maksiat. (Syeikh Al Qaradhawi, Kitab Fiqh As Siyam, halaman 104). Nabi Saw. bersabda : "Barangsiapa sempat bertemu Ramadhan dan tidak diampun dosanya, maka semakin jauh ia dengan Allah." (Hadis riwayat imam Ibnu Hibban rh.)
 
8)    Mencium lelaki dan wanita semasa berpuasa
 
Hukumnya : Mencium isteri atau suami tatkala berpuasa, tidak batal menurut majoriti ulama.
Ia berdasarkan beberapa dalil antaranya :-
 
كان رسول اللَّهِ  يُقَبِّلُ وهو صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وهو صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كان أَمْلَكَ لِإِرْبِهِ
"Nabi Saw. pernah mencium dan bermesra (dengan isterinya) dalam keadaan ia berpuasa, tetapi baginda adalah seorang yang menguasai diri dan nafsunya."
Hadis riwayat imam Abu Daud rh.,  Jilid 2 no. 311 ; Syeikh Syuaib Al Arnaout rh. menyatakan ia Sahih
 
Dan satu lagi adalah : -
 
 فجاء شاب فقال أقبل يا رسول الله وأنا صائم قال لا قال فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال النبي قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض إن الشيخ يملك نفسه رواه أحمد والطبراني في الكبير وفيه ابن لهيعة وحديثه حسن وفيه كلام
“Kami bersama Nabi tiba-tiba didatangi oleh seorang pemuda dan bertanya : Aku berpuasa dan aku mencium isteriku, jawab nabi : Jangan ; tiba-tiba datang seorang tua dan bertanya soalan yang sama : Jawab nabi : Ya ( tiada masalah) ; kami kami saling berpandangan antara satu sama lain, maka nabi berkata :- "aku tahu apa mengapa kamu saling berpandangan antara satu sama lain, sesungguhnya orang tua mampu mengawal dirinya (nafsu)."
Hadis riwayat imam Ahmad rh. dan imam Thabrani rh., sanadnya terdapat Ibn Lahi'ah yang diperkatakan tentangnya, menyebabkan hadis ini dianggap dhoif
 
Syeikh Al Qaradhawi pula menambah "berapa ramai orang tua zaman sekarang yang turut tidak mampu mengawal nafsunya."
Kitab Fiqh As Siyam, halaman 106 )
 
Kesimpulannya, ia tidak membatalkan puasa dan ciuman sebegini tidak harus jika ia boleh membawa mudarat seperti menaikkan nafsu dan boleh membawa kepada persetubuhan di siang hari Ramadhan.
 
9)    Wanita tamat haid
 
Wanita tamat haid pada waktu malam dan sempat niat pada waktu malamnya sebelum naik fajar subuh. Ia dikira sah walaupun belum mandi hadas. Jika ia tidak sempat berniat sebelum fajar subuh, seperti belum makan dan minum apa-apa pada pagi itu, kemudian pada jam 8 pagi haidnya kering, ia tidak dikira boleh berpuasa pada hari itu kerana tiada niat bagi puasa wajib boleh dibuat selepas terbit fajar. Demikian juga ditegaskan oleh majoriti ulama’.
Imam Ibn Quddamah Al Maqdisi rh., Kiab Al Mughnie, Jilid 4 halaman 201
 
Dalilnya adalah :-
من لم يُجْمِعْ الصِّيَامَ قبل الْفَجْرِ فلا صِيَامَ له
"Barangsiapa yang tidak berniyat untuk puasa sebelum fajar, tiada puasa (wajib) baginya."
Hadis riwayat imam imam Abu Daud rh., Jilid 3 no. 108 ; menurut Syeikh Al Albani rh. ia sahih
 
10)  Keluar air mazi
 
Air mazi adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki atau perempuan kerana naik syahwat yang bukan dari mani. Banyak seklai persoalan berkenaan keluarnya air mazi semasa berpuasa, samada ia membatalkan puasa atau tidak.? Zahir dalam mazhab Hanbali menyatakan, ia membatalkan puasa.
 
Bagaimanapun, dalam mazhab Hanafi, Syafie, Awzai'e, Hasan Al Basri, As-Sya'bi dan Imam Ahmad dalam satu pendapatnya berfatwa : keluarnya air mazi tidak membatalkan puasa. Saya lebih cenderung dengan pendapat ini.
 
11)  Keluar air mani tanpa setubuh
 
Mencium dan menyentuh melalui onani sehingga keluarnya mani dengan syahwat adalah membatalkan puasa dan wajib qadha, ia adalah disepakati oleh seluruh ulama. Adapun keluarnya air mani hanya kerana berfikir lucah dan melihat dengan syahwat, ia tidaklah batal menurut sebahagian ulama termasuk mazhab Syafie, Hanafi. (Al-Mughni, 4/159). Manakala mazhab Hanbali dan Maliki mengatakannya batal.
 
Walau bagaimanapun, saya lebih cenderung dengan pendapat yang mengatakannya batal kerana ia benar-benar bercanggah dengan tujuan dan maqasid puasa dalam Islam. Selain itu, ia juga adalah sama dengannya keluar mani kerana sentuhan. Keluar air mani kerana bermimpi di siang hari Ramadhan atau kerana sakit tertentu. Sepakat ulama menyatakan ia tidak membatalkan puasa.
 
12)  Menelan air liur dan kahak
 
Hukumnya : Ia tidak membatalkan puasa disebabkan terlalu sukarnya untuk menjaga hal seperti ini. (imam Ibnu Quddamah Al Maqdisi rh. kitab Al Mughnie, Jilid 4 halaman 159). Manakala kahak yang selagi ia belum sampai ke anggota mulut (sebelah hadapan lidah), iaitu masih berada pada had tekak maka tidak membatalkan puasa jika ditelan. Kerana ia masih tidak keluar daripada anggota zahir. Kahak yang sudah sampai pada mulut, inilah yang menjadi khilaf adakah membatalkan puasa atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan batal dan ada pendapat yang mengatakan tidak batal.
 
Sebahagian ulama berpendapat HARAM menelannya dengan sengaja kerana ia adalah kotoran. Jadi, kesimpulan yang terpilih adalah kahak yang sampai ke mulut haram ditelan dan kebanyakan ulama menyatakan ia membatalkan puasa. Manakala yang berada di bahagian pangkal lidah dan tekak, jika ditelan tidak membatalkan puasa.
 
13) Mandi
 
Tiada masalah untuk orang berpuasa mandi, ia tidak membatalkan puasa. Dalilnya adalah hadis yang menunjukkan Nabi Saw. mengizinkan orang yang junub mandi selepas waktu subuh, namun mandi junub adalah wajib, bagaimana pula mandi sunat atau harian yang biasa?.  Jawapnya ia tidak membatalkan puasa malah sahabat besar seperti Abdullah Ibnu Abbas Rhu. juga pernah disebutkan mandi ketika berpuasa.
 
Anas bin Malik Rhu. pula adakalanya merendam kepalanya di dalam batu dipenuhi air (seperti telaga) akibat bersangatan panas. (Rujukan :  Kitab Fath ul Bari). Cuma,  puasa hanya boleh batal apabila seseorang mandi sambil mencuri minum sebagaimana yang mungkin dilakukan oleh para remaja dan lainnya, maka ia batal kerana minum dan bukan mandi itu sendiri.
 
14)    Berniyat berbuka atau membatalkan puasa sebelum waktu
 
Tindakan sebegini adalah membatalkan puasa menurut mazhab Syafie, Hanbali dan Hanafi. Cuma jika dengan segera seseorang itu kembali berniat dan membetulkan niatnya tadi, puasa tidak terbatal. Justeru, seluruh individu berpuasa wajib menjaga niatnya agar tidak terpesong untuk membatalkannya. Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi rh. menolak pandangan yang mengatakan tidak batal kerana ibadah itu adalah berdasarkan niyat, seperti solat juga yang akan terbatal jika seseorang berniat membatalkannya. (kitab Al Mughnie, Jilid 4 halaman 175).
 
15)  Menggosok gigi ketika berpuasa
 
Persoalan ini telah saya ulas di entry yang berbeza, sila ke tajuk link  'Gosok Gigi Ketika Puasa'
Tambahan dari saya : - Tidak batal puasa kalau bersiwak, menggosok gigi atau berkumur-kumur dengan syarat tidak menelan air tersebut. Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rh. mengatakan : boleh menggunakan ubat gigi asalkan dapat mengelak dari menelannya (Kitab Fataawa Bin Baaz, Jilid 4 halaman 247). Manakala Syeikh Muhammad bin Solih Al Utsaimin rh. bersetuju dengannya dan mengatakan : lebih elok memberus gigi diwaktu malam. (Kitab Al Syarh Al Mumti, Jilid 6 halaman 407 dan 408).
 
Sekian,
 
Ahlan wa sahlan Ramadhan Al-Mubarak dan selamat menjalani ibadah puasa.
 
Zaharuddin Abd Rahman
13 Sept 2007
01 Ramadhan 1428 H 
 
Sudah hampir sebulan penuh Ramadhan Al Kariim “bertamu” kepada kita untuk menyampaikan segala khabar gembira untuk orang-orang yang beriman, mudah-mudahan nukilan ini memberi seribu makna dalam kita berusaha memahami lebih dalam hal-hal hukum puasa ini. Puasa adalah sarana untuk mencapai tahap taqwa, kerana taqwa sejatinya membantu mencegah dari berbuat dosa. Lantaran itu, Nabi Saw. pernah  bersabda : “Puasa adalah perisai yang melindungi diri seorang hamba dari api neraka.” Marilah kita jadikan puasa ini membuatkan kita lebih takut dan taat kepada Allah. Persoalannya sama ada benar atau tidak bahawa puasa itu telah membantu kita dalam menjauhkan diri kita dari dosa dan ketidaktaatan? Lihat saja keseharian kita nanti setelah Ramadhan berlalu sebagai pembuktiannya.
 
Akhirul kalam, marilah kita masing-masing mengambil manfaat daripada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kerana apabila masuknya Ramadhan, pasti akan ada segolongan daripada umat Islam yang leka dengan Ramadhan. Mereka leka dengan perniagaan, hiburan, bermewahan malah ramai juga yang sibuk mencari keuntungan ekonomi. Sedangkan yang keutamaan di bulan ini adalah menjana ekonomi ganjaran pahala Ramadhan lebih-lebih lagi dengan tawaran istimewa Ramadhan iaitu Lailatul Qadr, taqwa dan keampuan. Ini seperti yang dijanjikan di dalam sebuah hadis sahih :
 
"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa pada bulan tersebut. Bulan yang dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikan di bulan Ramadhan maka ia benar-benar terhalangi (merugi)"
Hadis riwayat imam Ahmad Rhm. dan imam An-Nasa'ie Rhm.
 
والله تعالى أعلم  ,  وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين.
 
Yang benar itu datang dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, semua yang tidak benar itu dari saya yang amat dhaif ini.
 
سكيان , والسلام

eddzahir@38
Tanah Liat, Bukit Mertajam

Read more...