Thursday, January 31, 2013

Makna Tiada Paksaan Di Dalam Islam ( Siri 3 ) - Soal Jawab

0 comments

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
وبعد, يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي رب إشرح لي صدري و

Segala puji bagi Allah Swt., Pencipta sekelian alam. Salawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw. Selamat sejahtera ke atas para Ahlul Bait, SahabatNya, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, para Syuhada dan Salafus Soleh serta orang-orang yang mengikut mereka dengan baik hingga ke hari kemudian. A'mma ba'du.

Saya mendoakan agar Allah Swt. sentiasa menerima semua amalan kita seterusnya melimpahkan segala rahmat dan keampunanNya di hari dan bulan yang mulia ini, InsyaAllah. Saya memohon perlindungan, rahmat dan bimbingan dari Allah Swt. dari sebarang kesilapan dalam menuliskan nukilan ini.

Disini saya sertakan beberapa korespondens antara saya dengan beberapa orang, Untuk tujuan dan manfaat ilmiyah bersama, insyaAllah.

Date: Wednesday, November 7, 2012, 5:56 AM

The Commentators like Al Qurtoby have mistranslated the word "Silm" or peace in the Quran to justify their expansionest ideology during the early islamic period.
Silm is 'peace'. Allah asked us to enter into 'peace'. Not aggression & coercion. Not Forcing people to convert to Islam.
But the corrupted tyrants in the early Islamic period said, "Oh you believers, enter into ISLAM (SILM) completely!"

2. We believe in the five pillars of Islam, but we consider them, as Prophet Mohamed himself maintained, to be the pillars of the religion - not the religion itself. Performing them is not the ultimate goal; rather, by doing them, we hope to establish a base of piety that should help us foster other religious values, equal to - if not more - pleasing to God, such as kindness, tolerance, and peace.

3. We respect other scholars and theologians who performed Tafseer (i.e., exegeses and interpretations of the Quran). However, as humans limited to a specific time and place, it is only normal to accept that much of their interpretations, while perhaps suitable to their time and place, may very well not at all be suitable to our much changed world. Accordingly, modern interpretations of the holy Quran (based on the one of the acknowledged roots of jurisprudence, Ijtihad) should be implemented to enhance and enrich our understanding of the religion.

9. We are clearly against any interpretation of the Quran or Islam that does not respect the value of human life, or that promotes hatred and violence against others.

Date: Wednesday, 7 November, 2012, 3:43 PM
 
Allah wills brings peace. Islam is not peace...its a religion.....a way of life

Date: Wednesday, 7 November, 2012, 7:45 PM

No bro, u didn't get it. What Shabir Ally meant is this ayat 2:208. 'Silm' is 'peace', not 'Islam' as commonly translated during earlier Islamic period to justify forced-conversion into Islam.

"O you who believe, enter into peace, all of you, and do not follow the footsteps of the Satan." (Quran 2:208)

5. We believed that the ultimate way of implementing true Islam in our lives is by living in peace and harmony with all mankind (2:208 Oh ye who believe! Enter into peace whole heartedly; and follow not the footsteps of Satan (the evil one); for he is to you an avowed enemy). Any historical event that may have contradicted this fundamental tenet in any way, shape, or form, is undoubtedly unacceptable to God and aginst the true teachings of the Qur’an.

From: edd zahir edd_zahir@yahoo.com
Date: Thursday, 8 November, 2012, 7:12 AM

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

The Commentators like Al Qurtoby have mistranslated the word "Silm" or peace in the Quran to justify their expansionest ideology during the early islamic period.
Silm is 'peace'. Allah asked us to enter into 'peace'. Not aggression & coercion. Not Forcing people to convert to Islam.
But the corrupted tyrants in the early Islamic period said, "Oh you believers, enter into ISLAM (SILM) completely!"

Sekadar bertanya :

Oleh kerana imam Al Hafiz Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr al-Ansori al-Qurthubi Rohimahullah adalah seorang mistranslated, expansionest ideology dan corrupted tyrants

maka adalah lebih baik segala kitab tafsir dan kitab Islamiyah lain (25 kitab semuanya dalam pelbagai bidang) karangan beliau dibakulsampahkan sahaja.

Ini disebabkan seseorang yang : mistranslated, expansionest ideology dan corrupted tyrants, adalah seorang yang tidak lagi terpercaya (tsiqah) tetapi mardud untuk diambil ilmu darinya. 

سكيان , والسلام

Sent: Friday, November 9, 2012 2:46 PM
 
Slm ustaz, Pls dont get it wrong.

The person who mistranslated it might not deliberately did it. He was just trying his best to interprete/tafsir. But there were also warlords around who took the translation out of context, who were driven/obsessed by their own interest, and became tyrants who did aggression, or forcefully convert kafirs.

There are a few points to address here:

1. Forceful conversion is against the teachings of Quran. Rasulullah SAW never did it. Rasulullah SAW had NEVER forced people to believe.

2.No one is free from making mistakes. Sahabah, tabiins & old great scholars may make mistakes in their writings.  And that it's our responsibility to always check & verify everything we read & learn. We cannot take everything blindly.

3.  No one can claim to have the best interpretation, not Syabir Ally , not Ibn Kathir, or anyone, bcoz none knows its ta'wil except Allah SWT (3:7)

We can just do our effort to seek knowledge & pray for guidance..

"Our Lord! Let not our hearts deviate (from the truth) after You have guided us, and grant us mercy from You. Truly, You are the Bestower." (3:8)

Let's hope for the best in doing ijtihad, by putting effort to seek & choose the best source of guidance (39:17-18), ..for more meaningful life, and also to defend & support Rasulullah SAW (33:56) from all falsehood attributed to him.

Wallahua'lam

From: edd zahir edd_zahir@yahoo.com
Sent: Monday, November 12, 2012 4:44 PM

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Terima kasih atas maklumbalas dan penjelasan dari tuan, dan saya memahaminya. Saya mahu mengulangi statement asal, yang saya kurang senang dengannya :

The Commentators like Al Qurtoby have mistranslated the word "Silm" or peace in the Quran to justify their expansionest ideology during the early islamic period.
Silm is 'peace'. Allah asked us to enter into 'peace'. Not aggression & coercion. Not Forcing people to convert to Islam.
But the corrupted tyrants in the early Islamic period said, "Oh you believers, enter into ISLAM (SILM) completely!"

Statement ini bukanlah seperti penjelasan tuan, tapi suatu tuduhan langsung ke atas sifat peribadi imam Al Qurthuby Rhm. (sekarang disebut Cordova, Spain) yang mempertikaikan kefaqihan ilmu dan kredibiliti peribadi beliau. Di dalam kitab tafsir Al Jami' li Ahkam il Qur`an, Jilid 2 halaman 257-258, beliau rhm. memang menafsirkan lafaz Silmi kepada Islam. Malah semakan saya ke atas 6 kitab tafsir muktabar lain pun memaknakan yang sama, termasuklah sahabat Baginda Saw., Abdullah Ibnu Abbas Rhu.

Natijah dari tuduhan sedahsyat ini adalah menjadikan beliau seorang yang kategori tidak faqih lantas mardud, malah meliputi ke atas semua mufassirin muktabar yang lain, yang tidak layak lagi diambil ilmu manfaat darinya. Semestinya kita ingati, prinsip mengambil ilmu seharusnya :

"Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan.”
Surah Hud (11) : ayat 113

Al-Imam Malik bin Anas Rhm. menjelaskan : Ilmu tidaklah diambil dari empat orang : (1) Orang yang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun ia banyak meriwayatkan dari manusia, (2) Pendusta yang ia berdusta saat berbicara kepada manusia, meskipun ia tidak dituduh berdusta atas nama Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam (dalam hadis), (3) Orang yang menurutkan hawa nafsunya dan mendakwahkannya, dan (4) Orang yang mempunyai keutamaan dan ahli ibadah, namun ia tidak tahu apa yang dikatakannya (yaitu tidak faqih).
Imam Al Hafiz Abu Bakar bin Ahmad bin Ali Al Khothib Al Baghdadiy Rhm, Kitab Al Kifaayah Fi Ilmi Riwayah, Jilid 1, halaman 77-78

Saya akui, sebagai mukmin sewajibnya kita beri'tiqad bahawa hanya Allah Ta'ala yang sebenar-benarnya dan hanya Nabi Saw. yang ma'sum (bersih dari salah silap). Manusia lain tiada hak ini, sepertimana dinyatakan kalamullah :

"Dia lebih mengetahui akan keadaan kamu semenjak Ia menciptakan kamu (berasal) dari tanah, dan semasa kamu berupa anak yang sedang melalui berbagai peringkat kejadian di dalam perut ibu kamu maka janganlah kamu memuji-muji diri kamu (bahawa kamu suci bersih dari dosa). Dialah sahaja yang lebih mengetahui akan orang-orang yang bertaqwa."
Surah An Najm (39) : Ayat 32

Dan bukanlah hal ini pun yang saya mahu sebutkan melainkan, sebenarnya perkara adab dan akhlak dalam perselisihan (khilafiyah) penafsiran dan pemahaman ilmu Allah Swt. Amat kurang ajar perkataan sebegitu dikeluarkan ke atas seorang ulama' lain oleh seseorang lain atas sebab mempuyai penfasiran/pemahaman berbeza. Perbuatan ini lebih menyerlahkan sikap takbur dalam diri berbanding dari hasrat menyampaikan al haq.

Perselisihan/khilaf sebenarnya terhasil dari cara penafsiran/pemahaman ke atas mufradat/masdariyah/vocabulary "sin.laam.miim - salima" sama ada dimaknakan secara lughah Arab - sejahtera, selamat, aman, damai atau pun secara maknawi isthilah/syara' - Ad Diin ul Islam. Manusia yang beraqal, waras dan ikhlas dalam beragama, pasti benar memahami dan sedar bahawa perselisihan begini bukanlah alasan untuk memardudkan dan menistai satu orang lain.

Lantaran itu mesti difahami dengan benar apakah : terjemahan, ta’wilan dan penafsiran sebelum berkata terlalu banyak. Ijtihad satu manusia tidak pernah membatalkan ijtihad satu manusia lain. Dan mesti diingat bahawa ijtihad adalah bathil sama sekali ke atas sesuatu urusan yang soreh dan qoth’ie ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Pasti sekali as Silmi itu berarti Islam kerana tiada satu pun “jalan” yang boleh membawa kepada kesejahteraan, kedamaian dan keamamnan yang hakiki melainkan Islam justeru Allah telah berfirman :

“Dan barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
Surah Ali Imran (3) : ayat 85

Hujjah dan alasan bahawa penafsiran terdahulu tidak tepat (outdated) berbanding modern interpretation yang lebih relevan dengan zaman, seharusnya berhati-hati dengan pernyataan ini kerana Islam tetap yang asli dan ia baqa’ (kekal), maka zaman yang mesti mengikut Islam dan bukan Islam diubahsuai mengikut zaman. Sila berhati-hati.

Yang saya maqsudkan adalah perkara adab dan akhlak dalam berilmu, memberikan pandangan terhadap ilmuwan lain dan memberikan penafsiran ke atas Islam dan Kalamullah.

سكيان , والسلام

From: edd zahir
Sent: Wednesday, November 28, 2012 10:33 AM

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
 
Amat menarik sekali hal ini untuk dikongsikan secara bersama sebenarnya perbincangan sebegini.
 
Go ahead, do as what you like with volumes of kitabs of your idolized mullahs but don't tell me to blindly follow what you have blindly swallowed.

Tiada sesiapa pun yang blindly follow and swallowed with volumes kitabs of idolized mullahs (ini fahaman syi'ah) and yang orang lain kata waimma sesiapa pun selain Nabi Saw. Semua orang Islam telah faham bahawa Allah Swt. Yang Ma'bud Yang Qahhaar telah pun berpesan :
"Dia lebih mengetahui akan keadaan kamu semenjak Ia menciptakan kamu (berasal) dari tanah, dan semasa kamu berupa anak yang sedang melalui berbagai peringkat kejadian di dalam perut ibu kamu maka janganlah kamu memuji-muji diri kamu (bahawa kamu suci bersih dari dosa). Dialah sahaja yang lebih mengetahui akan orang-orang yang bertaqwa."
Surah An Najm (39) : Ayat 32

hanya Allah Ta'ala yang sebenar-benarnya dan hanya Nabi Saw. yang ma'sum (bersih dari salah silap). Manusia lain tiada hak ini.

Yang dirujuki, ditinjau dan dinaqal pendapat, huraian dan penjelasan dari orang tertentu itu (pasti sekali dirujuki kepada orang yang faqih dan terpercaya mengikut sesuatu bidang) kerana ummat Muslimin mahu mematuhi perintah Allah Swt. sendiri :

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka (para rasul dan nabi), maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (A) jika kamu tidak mengetahui".
Surah An Nahli (16)  : ayat 43
A.           orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan Al Bayan

Ini dijelaskan oleh firman Allah Swt. lagi :

"Dan tiada Kami utuskan sebelum engkau (Muhammad) melainkan beberapa orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang ahli zikr (orang yang berilmu tentang Al Kitab) jika kamu tidak mengetahui."
Surah Al Anbiyaa’ (21) : ayat 7

Dan cara bagaimana mendapatkan pengetahuan itu pun telah Allah Swt. jelaskan juga :

"Dengan keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad Saw.) Al Qur'an agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (B) dan supaya mereka memikirkan".
Surah An Nahli (16) : ayat 44

B. Segala perintah yang terdapat di dalam Al Furqan (larangan, perintah, kisah, hukum, dll.)

yaitu : mendapatkan ilmu mengenai Islam itu menerusi mu'jizat dan keterangan Al Qur'an sendiri yang dijelaskan oleh Nabi Saw. sendiri. Memberi makna tidak boleh memahami Islam dan Al Qur'an sesuka hati melainkan menerusi apa yang Allah telah tetapkan dan dikhabarkan oleh Nabi Saw. Sekiranya hal ini tidak dijaga dan dipatuhi, orang akan buat sesuka hati tentang Islam dan Al Qur'an.

Dalam rangka memahami dan mentaati Islam secara yang benar, maka proses mendapatkan keterangan dari Allah dan Rasul sendiri ke atas Islam dan Al Qur'an wajib dilalui. Jika tidak kita akan jadi sepertimana ummat ahli kitab terdahulu walau pun sekarang ini yang memahami kitab dan menafsirkan sesuka hati :

“Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah serta mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum mereka, setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut maka hati mereka menjadi keras, dan banyak di antaranya orang-orang yang fasiq - derhaka."
Surah Al Hadiid (57) : ayat 16

Semua ini, terangkum di dalam satu peringatan paling jelas oleh Allah dan rasul kepada semua ummat muslimin dalam rangka beriman, tundukpatuh, mentaati dan melaksanakan segala yang disuruh dan meninggalkan segala yang dilarang : berbuatlah semua itu mesti dengan ilmu yang haq. Allah Ta'ala telah pun berpesan :

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu akan ditanya dan dipersoalkan."
Al Israa’ (17) : ayat 36

Nota : diakui sangat besar jumlah ummat Islam yang terlepas pandang hal asas ini dan melewakannya sahaja, lebih senang menjadi taqlid buta. Entah di mana silapnya, saya tidak berani menuduh melulu. Baik sekali hal ini dibincangkan dalam satu forum khusus yang lain, supaya ada penyelesaian dan memberi kebaikan, daripada menuduh itu ini tetapi tidak memberikan membantu apa pun jalan kebaikan. Sekiranya kita tahu dan berupaya, bantulah saudara kita yang lain sebaik-baiknya, jangan berkata rambang dan meninggalkan titik soal.

Jgn terlalu taksub dgn ulama2 idola sehingga kitab2 tafsir & hadis2 mrk boleh RULE-OUT perintah Allah. 

Terima kasih atas peringatan. Keterangan yang dinyatakan di atas memberitahu sejelas-jelasnya bahawa yang ditudukpatuhi hanyalah adalah Allah dan Rasul-Nya semata-mata, bukannya manusia lain. Baik difahami benar-benar antara kaedah yang digunapakai untuk memahami seterusnya menjadi landasan kepada ketaatan berbanding dengan ketaatan yang haq.

ulama2 idola sehingga kitab2 tafsir & hadis2 mrk boleh RULE-OUT perintah Allah.
 

Menarik hal ini, harap dapat diberikan semua keterangan berkaitan supaya boleh dikongsikan, diperhati, dibincangkan dan memberi manfaat kepada semua orang. Yang tidak benar pasti sekali mesti akan ditolak. Kewajiban semua ummat Mukminin menolak kebathilan dan menerima kebenaran. Cuma butiran lengkap – yang rule out - itu mestilah diberikan.

Mari kita kembali ke fokus asas topik ini :

Bagaimana sebenarnya dengan hanya lafaz : Tiada Paksaan Dalam Agama (2:256), disokong oleh beberapa ayat lain yang Allah Swt. menyeru para Nabi, Rasul dan seluruh ummat Muslimin supaya terusan berda'wah kepada kafirin tentang Islam tetapi tidak boleh memaksa mereka memasuki Islam, boleh pula membawa kepada adanya pengistinbatan hukum sebegini :

Samada org tu Islam ke kafir ke, berubah fikiran, nak tukar agama/kepercayaan, dari beragama Islam solat sembah Allah, esok dia berubah fikiran sembah patung Buddha, minggu depan insaf balik taubat pergi masjid sembah Allah, bulan depan jadi tolol lagi, tukar agama join keling paria pergi sembah lembu2, kemudian terus tak percaya Allah sembah orang, sembah patung/palang, atau sembah lori angkut taik sekalipun, itu semua urusan Allah. Allah yang akan hukum org mcm tu. Bukan urusan kita utk paksa dia, hukum dia, bunuh dia. Tak boleh. Kita cuma sampaikan saja.

yang warna merah tu patut dibincangkan dalam forum yang lain selepasnya. ini hal bentuk hukuman ke atasnya, bukannya hal asas yang sedang diperbicarakan.

سكيان , والسلام

Sent: Friday, November 30, 2012 8:52 AM

Salam,

Now this is good, now we are talking, we are discussing based on points & substance.
Educate, dakwah, menyebarkan syiar Islam - is a YES. 
Paksaan (dgn kekerasan/hukuman) - is a NO.

As expalined by verses  2:256 and posted earlier as below:-

[Quran 10:99] Dan kalau Tuhanmu mengkehendaki, tentulah beriman (percaya) semua orang di muka bumi seluruhnya. Apakah engkau hendak MEMAKSA manusia supaya mereka menjadi org2 mukmin (believers/ org yg percaya)?
Dlm ayat 18:29 itu juga Allah sediakan balasan buruk bagi org yg tak percaya dan balasan baik & nikmat bagi org2 yg percaya dlm ayat seterusnya (18:30-31) Allah. (ini semua urusan Allah, bukan urusan kita nak menghukum & paksa org utk percaya)

[88:21-22] Maka peringatkanlah, kerana sesungguhnya engkau hanyalah pemberi ingat; bukanlah engkau dapat memaksa atas mereka

Wassallam,

0 comments: